Kamis, 15 Oktober 2009

TIDUR

" dalam tidur, ku dengar
  kucing menggeram
  mengendapkan birahi yang
  muncul dalam keheningan
  sepi
  ."

1986
PERSETUBUHAN

Sementara aku pergi menyusur sepi
kubiarkan pelataran ditumbuhi melati
bagi jalan Sang Kodrat, hidup adalah persetubuhan
menyatukan Dzat Kawulo dan Dzat Gusti
yang senantiasa ingin bermesraan.

Ku masuki lembab rahimMu
gelap dan gaib
mengayun sukmaku diatas megemega
diatas piano tubuhMu, nyanyi gereja
meremang kudukku mendaki puncakNya.

Bintikbintik keringat butirbutir nikmat
mengalir dari seluruh rahmat
dalam rahim purbaMu
tak tersapa.

1986
VENI DOMINE JESU

Wahai merpati kecil yang melintas kepalaku
saat Yohanes mempermandikan kepakMU
lirih berbisik di telinga
" Inilah Putraku, yanh lahir dari rahim Roh Kudus
  darahnya lautan lidahnya anggur setaman
  terimalah ia sebagai cahya yang bakal menerangi
  hati manusia"


Yha, yha, bagikan pada kami terang hingga tumbuh cinta
kasih yang memancar lewat tanganku kecil, lantas
ku sembuhkan orang sakit kubuka mata buta kubagi
roti bagi yang lapar kudamaikan perang dan
kubangkitkan yang mati lantas kutunjukkan jalan
menghadapMu
sebagai gembala kuselamatkan dombadomba dari duri
serigala
dari jerit dan keluhsesal.

Wahai,
datanglah terang bagi hati hingga tumbuh waktu
tumbuh kesadaranku.


1986
SAMUDRA

Dia yang bertelinga samudra hingga hilang tepi
Aku menampakNya
memasuki dunia yang gaib dimana langit dan samudra
bertaut dalam diri menjelmakan nuansa
            wangwung
hanyut dalam deras sungai memasuki darah
keheningan
    maha luas
        kehenengan
            maha lepas
maka lepaslah segala keinginan
    segala penderitaan
        - Aku hilang -

Segalanya nampak samar
tak punya apa tak merasa apa
: di Samudra.
MELAWAT SEPI

Ketika aku bersimpuh mencium kakiMu
memanggilMu dengan sejuta Dzikir
sepanjang hari memenuhi bumi, Engkau
tak juga hadir menemuiku.

Dalam Khusuk sujudku yang pasrah
menghitung waktu yang senantiasa bertambah
menekuni namaMu merenungi kuasaMu. Purba

Ketika anggur membasahi keningku
ketika tersentuh altar kudusMu
betapa asing bau tubuhMu terdengar
dalam sanubari yang rawan.

Lantas ku bakar segenggam kemenyan dengan nasi
tujuh warna bunga tujuh sumber air
mengaliri kehidupan
lewat sebait mantra kekidungan yang nglangut
menyebrangi samudra wening tak tersapa.

Reguk, reguklah darah yang habis gairah
menyinggahi setiap batu setiap nisan mantra
sabda
hanya gelisah dan resah yang ku temu dalam singgah.

Dentang itu kembali berulang
saat aku tak ingin apa tak punya apa
menggemakan keasingan yang tak ku temu
dalam mencari.

DOA

Seberapa jauh aku harus nyebrang
samudra cahya yang tumbuh mata
dalam tafakur doa
pada setiap anggauta.

Berapa kali harus ku eja nama purba
dalam luruh sujudku mengawali doa
sebelum aku sampai kesana
pada saatnya.

Ketika ku ulang
aku ingin berpulang.
LAKU

ati kang menep
sumeleh ing samubarang
sumarambah ing laku
kang kapisan
kapindone
karep
niyat kang luhur dumadi
saka abdi-daleme Gusti
kang amung sawiji
kaping telune
niyat madep
lumaku ing marganing Gusti
anteping ati
niyat ing kiblat
sira bakal tumeka
pusering jagad pusering Dzat
kang anglimput jasad
iku kang kaping pat
kalimane pasrah
jiwa lan raga lumeburna
sajroning wahananing Gusti
amurbeng gesang
pasrah bali
pasrah anglampahi
gesang kang langgeng
pangkoning Gusti
.
BERPULANG

Jangan sambut kepulanganku dengan tangis
kerna tangis mahkota duri
menghadang cinta Kristus lewat tangannya
kerna tangis sayatan hati
menggores kening Kristus membekas luka
mengucur darah
    memberati langkah
        tersenyumlah
bagai Bunda Maria
buah anggur direguk hati dahaga
lapangkanlah jalan bagi anak domba
pulang ke gembala.

1986
PERCAKAPAN

Ada lintas keengganan di ruang tamu, sambil menyantap duka
di balik terali. Demi perlambang, kau selesaikan sebait
melati di halaman
( pintu duka mengurung, matamu basah kabut )
" Betapa berat menyandang hidup dalam kehidupan" ucapmu
" pasrahlah, kita sekedar titah" sahutku sambil menganyam angan
" jangan sesalkan Adam memakan rusuknya, sesalkan diri kita
  yang mengeluh menerima nikmatnya"


Terdiam engkau menatap cakrawala merah, senja lembut
menidurkan mentari nakal dalam pelukan jagad.

Tertegun engkau memasuki pintu berdinding kaca perlambang
kehadiran Adam baru.
" kita hanyalah seonggok daging yang dipadati nafsu dan
  merah diwarnai darah, berkacalah"
" kita selalu luput dari pertimbangan"
gumammu pelan.

Tertunduk engkau mengusap keharuan, sehabis bermandi sepi
di alam sunya.
" disini bumi lahir berakhir, pertama Adam menyantap
  rusuknya dibawah anggerangger menyembunyikan gelisah"
" yang kita kenyam hanyalah sisa Adam hari kemarin kita,
  yang bakal kita selesaikan di sisa usia"


Tersedu engkau bersimpuh di kaki Ruh
kaki keheningan.
SUARA

Barangkali surat yang jatuh di pangkuan tidak berkabar apa
bagai jatuhnya puisi tidak untuk siapa, kehadirannya
hanyalah kilat pisau menyimpan tajam di ujungnya.

Penantian hanyalah kesia-siaan yang datang dari sebrang
tak menjanjikan sesuatu tak memberikan sesuatu kenyataan
terlahir dari laku diri mencari jalan.

Penyeberangan adalah awal pergulatan melawan kodrat
dari mula mencari hingga menemu tatanan dogma bagai
jatuhnya sinar bulan membawa terang jalanan.

Hidup bukanlah sekedar menjalani kodrat dan menunggu
kepastian harus didapatkan sebelum tujuan sampai
kerna waktu tak bakal berulang menjemput yang tlah hilang.

Barangkali surat tak berkabar apa melainkan siratnya
bagai sebuah patung yang tegak sebagai perantara
menyeberangi jalan-jalan yang tak nampak dalam ukirannya.

Barangkali puisi hadir tidak untuk siapa tapi getarnya
melantunkan kebeningan mata air yang menyimpan sumbernya.

Barangkali aku tak menuliskan apa kerna keterbatasan kata
yang terlihat bukan wujud sesungguhnya dari getar
sebuah suara.

1986
SANG AJI

(   kakang kawah adi ari-ari reksaning awak
    teka tak celuk tak jaluk gawemu
    undangen jabang bayine danyang sumbi
    teka turu teka tangi teka ngadeg teka mara
    teka welas teka asih
    asih-asih saka kersaning Gusti Allah )


Ini malam hanggoro kasih saat dewa
menebarkan jala asmara
bagi kerinduan kasih tak terbalaskan
ku lepaskan padamu sebait anak mantra saat diri
tertidur dalam angan saat dingin
mencapai keheningan
masuklah !
segala benih kedalam ruh kedalam darah
mewarnai kehidupan.

Ini malam burung pedasih nembang
menyuarakan sepi nglangut kekidungan ati
melenakan kesadaran dalam bayangbayang asmara
melenakan penalaranku kedalam kekuatan di luar diri.

(   kakang kawah adi ari-ari sedulurku sejati
    kang lair bareng awak kang sumadyo mBiyantu awak
    kang setya marang awak
    tunggal karep tunggal sedya tak jaluk gawemu
    nglepas jemparing kamajaya
    papat niatku limo sedyaku wolu jejantraku
    tumekakno jemparing ing  pangkoning kama ratih)


Dalam tidur yang jaga bayangbayang kakekku
warna merah di wajah hitam pori darah
diminumkannya seguci mantra ke mulut kecilku
anak lanang kang neruske trah Rangga Rahina
Aku tak tahu makna tak pandai membedakan rasa
ku telan kebanggaan seorang cucu menyandang
kejayaan moyangnya
namun aku lupa menidurkanmu di peluk anak mantra.

Wahai, wahai
bangkitlah kesadaran di tiap langkah
bagi anak gadisku yang bakal lahir dari rahim Maria
demi Bapaku yang bertahta di surga
demi calon istriku - Bunda Maria
ibu terpilih dari yang terkasih
ku serahkan diriku
altar kudus
        secangkir darah
                   sepotong daging Kristus
                              ku masukkan ke rahimmu
                                        Roh Kudus
                                 pusat segala hidup
tak ada lagi yang memberati langkah
ku pertaruhkan kebangganku ku pertaruhkan
keinginanku ku pertaruhkan segala kekuatan
yang melekat
ku tanggalkan segala milikku
di pintu kesadaran.

Kita kawin,
tak perlu saling memiliki
sepakat mengawinkan hati dan pribadi di hadapan
Dzat tertinggi
Roh suci.

:   Salam Maria, penuh rahmat Tuhan sertamu
    terpujilah Engkau diantara wanita dan terpujilah
    buah tubuhmu, Yesus
 

:   Santa Maria, Bunda Allah
    doakanlah kami yang berdosa ini
    sekarang dan sampai waktu kami mati.

Amin.

1982

PRINT AD

Add caption ...