I.
Kakiku guyah hilang keseimbangan
dalam relung sepi yang sunya
padang tiada tepi
tiada cakrawala langit bumi
dan matahari
terang tiada gelappun tidak
entah apa.
II.
Kalaulah sinar
bukanlah cahaya yang keluar dari sumbernya
kalaulah terang
semuanya tampak serba maya
kalaulah ku kenal diri
masih ada yang menyelinap lepas
membidik matahari.
III.
Kalaulah tlah ku temu
semuanya tak ada dalam genggaman
kalaulah belum
aku sudah
kalaulah sudah
akupun masih entah
yha Allah
kiri kanan atas bawah bukanlah arah
dan yang terlepas bukanlah anak panah
yang melaju menuju sasaran
tapi sasaranlah yang membidik kita
hingga segalanya jadi tiada
nampak jelas di relung-relung samudra.
oktober 18, 1987
Inilah wujud kegagalan yang aku raih, kegagalan yang senantiasa akan aku ikuti dengan kegagalan berikutnya
Kamis, 10 Desember 2009
ASMARA SHITA
Ketika Rahwana bangkit dari dalam dada
ku rasakan kehidupan mengaliri darah
lantas ku rentangkan tangan menebar aroma
keyakinanku pada Shita yang terpana
kijang kencana memasang jeratnya
O, wanita mana yang tak tertarik pada kilaunya
sejangkauan hasrat bakal teraih jinaknya
" Wahai Rama kekasih, berikan padaku
kijang kencana bukti cintamu padaku".
Sebagai lelaki Rama tertantang keangkuhannya
melesatlah ia dengan meninggalkan waspada
O, wanita senantiasa penuh prahara terbangkit dari mimpinya
desir cemara menggoyahkan langkah Rama lantas di angkatnya
Lesmana dari dalam rimba memahatkan syair bagi Kakanda
mengantarkan kepergiannya memburu kijang kencana
sumber prahara.
Kijang kencana dengan kegesitannya, mengaburkan langkah Rama
hingga ia kian jauh mengikut angin kembara
Shita Sang Putri penuh hasrat membara terbangkit kecemasannya
saat mentari kian memanjat pucuk-pucuk cemara
diutusnya Lesmana mencari jejak Sang Rama yang kian kabur
dalam kegelapan rimba
kebimbangan meraja di hati Lesmana, lantas perang
kepatuhannya pada Shita Sang Putri mengajaknya pergi mencari
ketaatannya pada Rama Kakanda menyuruhnya untuk menanti
di puncak pertempuran iapun diam
sambil meggores-goreskan jarinya ke bumi, terbakarlah
keangkuhan Shita
sebuah Gita menggeletar di cakrawala
" Wahai Lesmana adikku,
barangkali ada suara di balik getar kata-katamu
dengan kepergian Rama Kakanda mengejar buruannya, Engkau
melantunkan tembang di taman dewasamu dengan tatapan
melekat di kainku
adakah sesuatu yang memberatkanmu hingga kau
tak beranjak dari tempatmu ?
Sementara Rama Kakanda memeras rimba memburu kijang kencana
Engkau mengipas-kipaskan angin pagi menyulam mimpi
bagi hari-hari bakal lewat bersamaku
itukah persembahan baktimu, hai Lesmana ?"
Awan merah mengeliat di angkasa, tengadah
diteriakkannya bait-bait mantra pengukuhan baktinya
" Lihatlah Shita Ayunda,
Ku angkat syair perjalananku selanjutnya
Lesmana bakal melangkah sendirian
mengarungi samudra kehidupan
Lesmana akan sendirian dan akan terus sendirian
tanpa rusuk kanan dalam genggaman
demi baktiku pada Rama Kakanda dan Shita Ayunda
yang telah dibutakan kesadarannya
dengar hai langit, dengar
barangkali nyanyian ini mampu membangkitkan kenyenyakan
Shita Ayunda dari keangkuhannya
bangkitlah wahai,
Lesmana masih awas pandang matanya dalam rimba
gelap dan menyesatkan
aku masih mampu tegak dari hempasan nyanyi surga,
jangan cemaskan kepatuhanku pada Rama Kakanda
Aku turutkan perintahmu Ayunda Shita
sebagai bukti kekosongan jiwaku dari mimpi surga bersamamu".
Lantas dicabutnya pedang menggurat rajah
Kalacakra tergambar di punggung tangannya
Lesmana Adinda terluka
darah mengucur dari lambungnya
dibentangkannya kaki menebas belantara mencari Kakanda
dari mulutnya keluar mantra-mantra mengaliri malam jelaga.
Dalam rimba Shita Sang Putri merajut kecemasannya
tetes-tetes darah yang tercecer dari lambung Lesmana
menjelma sendang yang beriak di dalamnya
kebeningan airnya memantulkan kemasgulan wajah Shita
" Aku tlah keliru mengurai makna" gumamnya
" Kekagumanku pada anugrah Dewata memburamkan kilau belatiku
hingga ketajamannya mengoyak lambung Lesman, O Dewata
anugrahmu tlah membuahkan luka".
tetes-tetes air keluar dari pandangnya membentuk genangan mutiara
seorang Brahmana, muncul dengan kembang setangkai di tangan
" Wahai Shita Sang Putri, hapus air mata dan lihatlah
keceriaan di tanganku adalah bunga-bunga
setangkai di putik tergambar kereta kencana
yang bakal mengantarkanmu menuju kerajaan Dewa".
Shita yang wanita, tergoda wangi cempaka
keharuman menggelitik tangannya meraih bunga
kilat menyambar Shita, terlemparlah ia dari lingkaran Cakra
jeritnya tertinggal di awang-awang
menjelma nyanyian malam.
Asmara Shita menggelepar di cakrawala
suara angin yang melenakan tlah mengkoyak bahtera mimpinya
hingga yang terjelma kemudian adalah tangis berkepanjangan
membumbung bersama api yang membara dari dalam dada.
januari - agustus, 1988
ku rasakan kehidupan mengaliri darah
lantas ku rentangkan tangan menebar aroma
keyakinanku pada Shita yang terpana
kijang kencana memasang jeratnya
O, wanita mana yang tak tertarik pada kilaunya
sejangkauan hasrat bakal teraih jinaknya
" Wahai Rama kekasih, berikan padaku
kijang kencana bukti cintamu padaku".
Sebagai lelaki Rama tertantang keangkuhannya
melesatlah ia dengan meninggalkan waspada
O, wanita senantiasa penuh prahara terbangkit dari mimpinya
desir cemara menggoyahkan langkah Rama lantas di angkatnya
Lesmana dari dalam rimba memahatkan syair bagi Kakanda
mengantarkan kepergiannya memburu kijang kencana
sumber prahara.
Kijang kencana dengan kegesitannya, mengaburkan langkah Rama
hingga ia kian jauh mengikut angin kembara
Shita Sang Putri penuh hasrat membara terbangkit kecemasannya
saat mentari kian memanjat pucuk-pucuk cemara
diutusnya Lesmana mencari jejak Sang Rama yang kian kabur
dalam kegelapan rimba
kebimbangan meraja di hati Lesmana, lantas perang
kepatuhannya pada Shita Sang Putri mengajaknya pergi mencari
ketaatannya pada Rama Kakanda menyuruhnya untuk menanti
di puncak pertempuran iapun diam
sambil meggores-goreskan jarinya ke bumi, terbakarlah
keangkuhan Shita
sebuah Gita menggeletar di cakrawala
" Wahai Lesmana adikku,
barangkali ada suara di balik getar kata-katamu
dengan kepergian Rama Kakanda mengejar buruannya, Engkau
melantunkan tembang di taman dewasamu dengan tatapan
melekat di kainku
adakah sesuatu yang memberatkanmu hingga kau
tak beranjak dari tempatmu ?
Sementara Rama Kakanda memeras rimba memburu kijang kencana
Engkau mengipas-kipaskan angin pagi menyulam mimpi
bagi hari-hari bakal lewat bersamaku
itukah persembahan baktimu, hai Lesmana ?"
Awan merah mengeliat di angkasa, tengadah
diteriakkannya bait-bait mantra pengukuhan baktinya
" Lihatlah Shita Ayunda,
Ku angkat syair perjalananku selanjutnya
Lesmana bakal melangkah sendirian
mengarungi samudra kehidupan
Lesmana akan sendirian dan akan terus sendirian
tanpa rusuk kanan dalam genggaman
demi baktiku pada Rama Kakanda dan Shita Ayunda
yang telah dibutakan kesadarannya
dengar hai langit, dengar
barangkali nyanyian ini mampu membangkitkan kenyenyakan
Shita Ayunda dari keangkuhannya
bangkitlah wahai,
Lesmana masih awas pandang matanya dalam rimba
gelap dan menyesatkan
aku masih mampu tegak dari hempasan nyanyi surga,
jangan cemaskan kepatuhanku pada Rama Kakanda
Aku turutkan perintahmu Ayunda Shita
sebagai bukti kekosongan jiwaku dari mimpi surga bersamamu".
Lantas dicabutnya pedang menggurat rajah
Kalacakra tergambar di punggung tangannya
Lesmana Adinda terluka
darah mengucur dari lambungnya
dibentangkannya kaki menebas belantara mencari Kakanda
dari mulutnya keluar mantra-mantra mengaliri malam jelaga.
Dalam rimba Shita Sang Putri merajut kecemasannya
tetes-tetes darah yang tercecer dari lambung Lesmana
menjelma sendang yang beriak di dalamnya
kebeningan airnya memantulkan kemasgulan wajah Shita
" Aku tlah keliru mengurai makna" gumamnya
" Kekagumanku pada anugrah Dewata memburamkan kilau belatiku
hingga ketajamannya mengoyak lambung Lesman, O Dewata
anugrahmu tlah membuahkan luka".
tetes-tetes air keluar dari pandangnya membentuk genangan mutiara
seorang Brahmana, muncul dengan kembang setangkai di tangan
" Wahai Shita Sang Putri, hapus air mata dan lihatlah
keceriaan di tanganku adalah bunga-bunga
setangkai di putik tergambar kereta kencana
yang bakal mengantarkanmu menuju kerajaan Dewa".
Shita yang wanita, tergoda wangi cempaka
keharuman menggelitik tangannya meraih bunga
kilat menyambar Shita, terlemparlah ia dari lingkaran Cakra
jeritnya tertinggal di awang-awang
menjelma nyanyian malam.
Asmara Shita menggelepar di cakrawala
suara angin yang melenakan tlah mengkoyak bahtera mimpinya
hingga yang terjelma kemudian adalah tangis berkepanjangan
membumbung bersama api yang membara dari dalam dada.
januari - agustus, 1988
Rabu, 09 Desember 2009
TEPIAN
Kamar, dimana pintu-pintunya tertutup rapat
aku terbaring diam memeluk awan yang menggumpal
dalam dada
disini, kenangan begitu deras mengalir dalam darahku
bagai gemuruh ombak membentur karang tegar di tepian
keyakinan pernah kami pahatkan pada dinding bisu
ketika angin mendedas pertahanan kamipun runtuh
menerbangkan angan kami melewati batas negeri
dimana pantai-pantai menghempaskan kami
dalam kedamaian tiada tepi
sebuah kebersamaan telah kami arungi disini
hingga kami merasa tak terpisahkan menapaki waktu.
Kini aku sendiri menyisir pantai melabuhkan sepi
segalanya telah berakhir disini
tinggal kenangan dan kerinduan terukir di pasir
tepian.
parangtritis jelang ultah, 1988
aku terbaring diam memeluk awan yang menggumpal
dalam dada
disini, kenangan begitu deras mengalir dalam darahku
bagai gemuruh ombak membentur karang tegar di tepian
keyakinan pernah kami pahatkan pada dinding bisu
ketika angin mendedas pertahanan kamipun runtuh
menerbangkan angan kami melewati batas negeri
dimana pantai-pantai menghempaskan kami
dalam kedamaian tiada tepi
sebuah kebersamaan telah kami arungi disini
hingga kami merasa tak terpisahkan menapaki waktu.
Kini aku sendiri menyisir pantai melabuhkan sepi
segalanya telah berakhir disini
tinggal kenangan dan kerinduan terukir di pasir
tepian.
parangtritis jelang ultah, 1988
TUNGKU API
Kabut yang mengendap dari waktu
menjelma bayang tak ku tahu
sejak kapan menghuni ruangku
bagai tanaman ia tumbuh
merambati nadiku menetes
embun
pagi sekali
bahkan terlampau pagi untuk berteka-teki
siapa menjelma dalam hati
kala sepiku merindukan tungku api.
juni 4, 1988
menjelma bayang tak ku tahu
sejak kapan menghuni ruangku
bagai tanaman ia tumbuh
merambati nadiku menetes
embun
pagi sekali
bahkan terlampau pagi untuk berteka-teki
siapa menjelma dalam hati
kala sepiku merindukan tungku api.
juni 4, 1988
FRAGMENT (seusai pertemuan)
Aku berdiri di atas panggung menonton
wanita yang aku cintai berdialog tentang diriku
di belakangnya, seorang wanita dengan menara gadingnya
ponggah menggapai-gapaikan tangannya ke angkasa
sungguh,
ini sebuah pertunjukan yang barangkali
mampu menina-bobokkan diriku ke dalam mimpi
dengan belati mencuat di punggungku.
Aku tidak beranjak dari tempatku berdiri
di atas panggung yang menawarkan berjuta fantasi
segalanya memang bisa terjadi dan mungkin, sebenarnyalah
aku rindukan sebuah tikaman langsung menghunjam ulu hati
tapi tidak di atas panggung seperti ini
aku tak ingin membela diri betapapun pedihnya
darah membasahi tubuh sendiri.
Akupun terus berdiri menanti pertunjukan usai dan pemain
kembali memerankan dirinya dengan sarang laba-laba
membentang di belakangnya
akupun menggelar layar baru bagi sebuah babak yang
belum terselesaikan
inilah panggung sebenarnya bagi kita
membuka-buka sejarah lama hingga terdampar dalam bejana
menelanjangi kita
kenapa kita merasa asing dengan diri kita sementara
kita mampu berperan sebagai orang lain sedemikian baiknya
kenapa kita harus menina-bobokkan di singasana
sambil diam-diam memasang jerat di lehernya ?.
Ach adikku
janganlah terikat oleh cerita yang pernah kita buat
ketika masa remaja kita belumlah bulat
tinggalkan panggung ini dan berbuatlah sesuatu
barangkali ada sebuah negeri yang mampu mendamaikan
meneduhkan dari badai terik matahari
sementara biarlah aku tetap disini merenda keyakinan
yang kian lama kian tebal menyelimuti hari-hariku.
Aku masih terus berdiri, walau pertunjukan tlah lama berhenti
di depan cermin diri terasa begitu nikmat
sambil menikam-nikamkan belati ke jantung sendiri
ku persembahkan kepadamu
secarik kertas yang koyak-moyak bertuliskan darah
mengucur dari lambung kristus
barangkali ini jalan terbaik untuk mengakhiri perjalananku
begitu bukan adikku ?
Subuh, jelang 15 juli 1988
wanita yang aku cintai berdialog tentang diriku
di belakangnya, seorang wanita dengan menara gadingnya
ponggah menggapai-gapaikan tangannya ke angkasa
sungguh,
ini sebuah pertunjukan yang barangkali
mampu menina-bobokkan diriku ke dalam mimpi
dengan belati mencuat di punggungku.
Aku tidak beranjak dari tempatku berdiri
di atas panggung yang menawarkan berjuta fantasi
segalanya memang bisa terjadi dan mungkin, sebenarnyalah
aku rindukan sebuah tikaman langsung menghunjam ulu hati
tapi tidak di atas panggung seperti ini
aku tak ingin membela diri betapapun pedihnya
darah membasahi tubuh sendiri.
Akupun terus berdiri menanti pertunjukan usai dan pemain
kembali memerankan dirinya dengan sarang laba-laba
membentang di belakangnya
akupun menggelar layar baru bagi sebuah babak yang
belum terselesaikan
inilah panggung sebenarnya bagi kita
membuka-buka sejarah lama hingga terdampar dalam bejana
menelanjangi kita
kenapa kita merasa asing dengan diri kita sementara
kita mampu berperan sebagai orang lain sedemikian baiknya
kenapa kita harus menina-bobokkan di singasana
sambil diam-diam memasang jerat di lehernya ?.
Ach adikku
janganlah terikat oleh cerita yang pernah kita buat
ketika masa remaja kita belumlah bulat
tinggalkan panggung ini dan berbuatlah sesuatu
barangkali ada sebuah negeri yang mampu mendamaikan
meneduhkan dari badai terik matahari
sementara biarlah aku tetap disini merenda keyakinan
yang kian lama kian tebal menyelimuti hari-hariku.
Aku masih terus berdiri, walau pertunjukan tlah lama berhenti
di depan cermin diri terasa begitu nikmat
sambil menikam-nikamkan belati ke jantung sendiri
ku persembahkan kepadamu
secarik kertas yang koyak-moyak bertuliskan darah
mengucur dari lambung kristus
barangkali ini jalan terbaik untuk mengakhiri perjalananku
begitu bukan adikku ?
Subuh, jelang 15 juli 1988
W A J A H
Ku rengkuh kedamaian bukan kerna apa
melainkan sebagai sarana persembahanku pada yang kuasa
yang mampu menggelorakan tanganku hingga tercipta
diam temaram
yang mampu menjaring angin hingga terjelma
puncak hening
disana
tubuhku lemah terkurung kaca-kaca
tanpa pintu di dindingnya
aku mengaca
duh Tuhan
ini jiwa dahaga senantiasa
ku luruhkan sujudku tak menemu apa
ku tuntaskan firmanmu tak sebatas mega
hanya fatamorgana menggantung di pelupuk mata
ku rengkuh sejangkauan tak sampai
luput darai tangkapan
kian jauh di atas awan
menerbangkan jiwaku yang rawan
dari sentuhan
tanganMu
yha Tuhan
ulurkan
.
agustus 5, 1988
melainkan sebagai sarana persembahanku pada yang kuasa
yang mampu menggelorakan tanganku hingga tercipta
wajah surga
yang mampu menghentikan gerak bumi hingga terciptadiam temaram
yang mampu menjaring angin hingga terjelma
puncak hening
disana
tubuhku lemah terkurung kaca-kaca
tanpa pintu di dindingnya
aku mengaca
duh Tuhan
ini jiwa dahaga senantiasa
ku luruhkan sujudku tak menemu apa
ku tuntaskan firmanmu tak sebatas mega
hanya fatamorgana menggantung di pelupuk mata
ku rengkuh sejangkauan tak sampai
luput darai tangkapan
kian jauh di atas awan
menerbangkan jiwaku yang rawan
dari sentuhan
tanganMu
yha Tuhan
ulurkan
.
agustus 5, 1988
MATA
Nanar mataku
mengaburkan lafal mantra
menjelma banyak jalan
tak ku tahu mana kan sampai tujuan
terdekat dengan langkahku
tlah lelah ku mencari
tlah lelah
ku berlari
tlah lelah
bersimpuh di kaki
duh Gusti
haruskah ku berhenti sebelum ku temu
ataukah terus mencari sampai akhir perjalananku
kebimbangan ini kian memberati lanhkah
sementara yang ku cari
terus berputar
melingkar
dalam benakku.
agustus 6, 1988
BUAH
Bakti karma dan kesetiaan terasa begitu samar dalam tatapan
serangkaian persembahan hidup yang berputaran kait mengkait
tanpa satu kepastian.
Sebuah upacara, serangkaian sesaji tanpa hati adalah
kesia-siaan yang terpelihara di dalamnya termuat
beban tak terhindarkan,
Oleh nasib kita dibedakan dalam tingkatan
oleh kewajiban kita dibedakan dalam kesadaran
hingga bakti itu tetap berujud bakti tanpa makna
sangsi dibelakangnya adalah karma buah dari
ketidak-setiaan kita pada nurani.
Hidup perlu keberanian
keberanian bersikap, bertindak dan memutuskan permasalahan
mengolah hidup adalah mewujudkan impian menjadi kenyataan
dan kenyataan haruslah dihadapi dengan mata terbuka dan dada
bukan lewat kata atau nada
tapi ia bersuara membawa gema
betapapun lirihnya ia.
Bakti dipermukaan adalah pembunuhan secara perlahan
karma datang dari diri kita untuk diri kita
sedang kesetiaan adalah tanggung-jawab yang dipertahankan.
desember 11, 1985
serangkaian persembahan hidup yang berputaran kait mengkait
tanpa satu kepastian.
Sebuah upacara, serangkaian sesaji tanpa hati adalah
kesia-siaan yang terpelihara di dalamnya termuat
beban tak terhindarkan,
Oleh nasib kita dibedakan dalam tingkatan
oleh kewajiban kita dibedakan dalam kesadaran
hingga bakti itu tetap berujud bakti tanpa makna
sangsi dibelakangnya adalah karma buah dari
ketidak-setiaan kita pada nurani.
Hidup perlu keberanian
keberanian bersikap, bertindak dan memutuskan permasalahan
mengolah hidup adalah mewujudkan impian menjadi kenyataan
dan kenyataan haruslah dihadapi dengan mata terbuka dan dada
bukan lewat kata atau nada
tapi ia bersuara membawa gema
betapapun lirihnya ia.
Bakti dipermukaan adalah pembunuhan secara perlahan
karma datang dari diri kita untuk diri kita
sedang kesetiaan adalah tanggung-jawab yang dipertahankan.
desember 11, 1985
CAGAR ALAM
Jakarta bukanlah tempat memanja adikku,
melainkan pikir
dan pikir senantiasa menyentuh permukaan sedangkan rasa
ada di kedalaman
laut senantiasa berombak beriak di permukaan
tenang diam di kedalaman abadi senantiasa
walau badai mengguncang
dan akulah penghuni kedalaman yang setia
merengkaki relung karang jengkal bebatuan
dasar samudra
tak setiap orang berani memasukinya.
Jakarta adikku,
airnya begitu beriak menampar-nampar wajahku
alam pikir penuh akal menyelimuti waktu
yang tiap detaknya saling memburu
aku ingin tegak dalam diamku
tiap bidikan senantiasa mencari kelengahan
dan rambutku yang panjang menggeriap
di hembus badai segala penjuru.
Jakarta adikku,
adalah cagar alam bagi satwa
aku ada disana tapi tak bisa
masuk kedalamnya.
desember 7, 1985
melainkan pikir
dan pikir senantiasa menyentuh permukaan sedangkan rasa
ada di kedalaman
laut senantiasa berombak beriak di permukaan
tenang diam di kedalaman abadi senantiasa
walau badai mengguncang
dan akulah penghuni kedalaman yang setia
merengkaki relung karang jengkal bebatuan
dasar samudra
tak setiap orang berani memasukinya.
Jakarta adikku,
airnya begitu beriak menampar-nampar wajahku
alam pikir penuh akal menyelimuti waktu
yang tiap detaknya saling memburu
aku ingin tegak dalam diamku
tiap bidikan senantiasa mencari kelengahan
dan rambutku yang panjang menggeriap
di hembus badai segala penjuru.
Jakarta adikku,
adalah cagar alam bagi satwa
aku ada disana tapi tak bisa
masuk kedalamnya.
desember 7, 1985
Jumat, 04 Desember 2009
LAUT
Aku yang gelisah menggapai dalam kediaman
adalah kerinduanku pada langit yang membentang
menaungi cintaku yang jauh terbenam dalam
fatamorgana.
Pelangi senja bagai kabut mimpi mempertemukan
angan-angan yang di rajut kelam
barangkali benar, sebuah penantian akan berakhir
dan pertemuan bagai cakrawala yang tertangkap mata
akankah cintaku bakal sia-sia.
Ombak terus bergerak mengejar bayangnya
mencumbu langit yang terpantul di kedalaman diamnya
barangkali aku,
menunggu langit runtuh kedalam pelukan samudra
tanpa aku merasa sia-sia betapapun langit
kian jauh di angkasa.
parangtritis, jelang ultah '88
adalah kerinduanku pada langit yang membentang
menaungi cintaku yang jauh terbenam dalam
fatamorgana.
Pelangi senja bagai kabut mimpi mempertemukan
angan-angan yang di rajut kelam
barangkali benar, sebuah penantian akan berakhir
dan pertemuan bagai cakrawala yang tertangkap mata
akankah cintaku bakal sia-sia.
Ombak terus bergerak mengejar bayangnya
mencumbu langit yang terpantul di kedalaman diamnya
barangkali aku,
menunggu langit runtuh kedalam pelukan samudra
tanpa aku merasa sia-sia betapapun langit
kian jauh di angkasa.
parangtritis, jelang ultah '88
LANGKAH
" Aku kawulo lelananging nDonya
munggah samudra mbukak lawang kencono
ngudi kanugrahaning jawata mlebu kraton
Giri Kumolo
ambedah swarganing Dewi Pertimah
lepasing panah tumiba ing lemah
saka lemah anggegaru sawah
Rohku manjing sajroning Rah
Rah - Rah - Rah
samudra kawah sukmaku tinadah
jabang bayiku dumadi
jabang bayiku cinandi
dadi dadi saka kersaning Gusti Allah"
Dalam kelelapan suara mantra yang bening
tangan-tangan kecil menyeretku kedalam suasana asing
sambil meniupkan nafasnya ke wajahku
" Wahai lelaki perkasa yang mampu menjinakkan
badai dan prahara, akulah buah keperkasaanmu
muncul dari buih ciptaanmu saat pelangi turun
dari ufuk senja menghirup nafas surga
ku dambakan sebuah pelukan dari tanganmu yang dulu
ku kenal begitu kokoh menghempas-hempas
karang batuan"
Ach, ternyata aku belum siap menjadi lelaki yang mampu
mengkais-kais pasir mencari jingking dan sisa kerang
pupuk bagi tanamanku yang terlanjur tumbuh dari
Rahim Maria
Bunda perawan dimana cintaku tersimpan.
Dan ternyata aku belumlah lelaki
yang mampu memadamkan prahara
yang senantiasa menggelora membuncahkan pandang
kesadaranku.
Kesadaran pada hidup dan riak keseharian
membuatku terus bertanya tentang susuh angin
jantung ngaurip
dimana letak ?
di pusat prahara ataukah atau dalam goa hening sapa
dimana segala kehangatan dan kesejukan berpusat
dimana segala tumbuhan runduk di hadapanNya
barangkali yha.
Dalam pengembaraanku yang berbekal hasrat sesekali
tersuruk mengikuti suara Durna yang aku kira
Guru Sejati
atau barangkali aku harus mengikut langkah Bhima serta tekad
tak sekeras baja langkahku senantiasa
mengikut suara gaib penuh pesona memanggil.
Akupun berendam dalam sendang sambil mendengarkan
nafas surga yang muncul dari mata airnya
sendang yang senantiasa membuatku dahaga
senantiasa membuatku ingin kembali
ke pangkuanNya.
Barangkali disini jiwa Maria bersemayan
tempat dimana rasa gaibku tersatukan lantas bersama-sama
menuju pangkuanNya
atau barangkali ini sebuah kurban bagi perjalananku
yang panjang dan melelahkan kerna kebosananku pada
langkah itu sendiri.
munggah samudra mbukak lawang kencono
ngudi kanugrahaning jawata mlebu kraton
Giri Kumolo
ambedah swarganing Dewi Pertimah
lepasing panah tumiba ing lemah
saka lemah anggegaru sawah
Rohku manjing sajroning Rah
Rah - Rah - Rah
samudra kawah sukmaku tinadah
jabang bayiku dumadi
jabang bayiku cinandi
dadi dadi saka kersaning Gusti Allah"
Dalam kelelapan suara mantra yang bening
tangan-tangan kecil menyeretku kedalam suasana asing
sambil meniupkan nafasnya ke wajahku
" Wahai lelaki perkasa yang mampu menjinakkan
badai dan prahara, akulah buah keperkasaanmu
muncul dari buih ciptaanmu saat pelangi turun
dari ufuk senja menghirup nafas surga
ku dambakan sebuah pelukan dari tanganmu yang dulu
ku kenal begitu kokoh menghempas-hempas
karang batuan"
Ach, ternyata aku belum siap menjadi lelaki yang mampu
mengkais-kais pasir mencari jingking dan sisa kerang
pupuk bagi tanamanku yang terlanjur tumbuh dari
Rahim Maria
Bunda perawan dimana cintaku tersimpan.
Dan ternyata aku belumlah lelaki
yang mampu memadamkan prahara
yang senantiasa menggelora membuncahkan pandang
kesadaranku.
Kesadaran pada hidup dan riak keseharian
membuatku terus bertanya tentang susuh angin
jantung ngaurip
dimana letak ?
di pusat prahara ataukah atau dalam goa hening sapa
dimana segala kehangatan dan kesejukan berpusat
dimana segala tumbuhan runduk di hadapanNya
barangkali yha.
Dalam pengembaraanku yang berbekal hasrat sesekali
tersuruk mengikuti suara Durna yang aku kira
Guru Sejati
atau barangkali aku harus mengikut langkah Bhima serta tekad
tak sekeras baja langkahku senantiasa
mengikut suara gaib penuh pesona memanggil.
Akupun berendam dalam sendang sambil mendengarkan
nafas surga yang muncul dari mata airnya
sendang yang senantiasa membuatku dahaga
senantiasa membuatku ingin kembali
ke pangkuanNya.
Barangkali disini jiwa Maria bersemayan
tempat dimana rasa gaibku tersatukan lantas bersama-sama
menuju pangkuanNya
atau barangkali ini sebuah kurban bagi perjalananku
yang panjang dan melelahkan kerna kebosananku pada
langkah itu sendiri.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
PRAKATA Pada awal-mulanya, artinya ketika manusia masih utuh, belum terpecah-pecah dalam watak dan karyanya, maka fungsi seorang agamawan,...
-
MENUJU DERMAGA Mempertemukan jemari kita saat sepi ketika bayang-bayang luruh membentuk rupa suaramu telah sampai sebelum kata lepas tan...