Sepi merayap memasuki gerbang kota
menggoyang-goyangkan nyala lilin dalam kamar
membentuk ceruk yang dalam
aku diam-mengetuk-ketukan jari di jendela
suara langkah mengendap pelan seirama detak
jam dinding kian keras mendekap kesunyian
kamarku – aroma sedap malam
langkah kian mendekat – langkah-langkah kami
berjalan diantara gerbang-gerbang kota tengah malam
menelusuri lorong dengan tembok kanan-kirinya
kian menyatukan langkah kami dengan semesta
( saat itu terasa, betapa perlunya saling melindungi )
di luar, angin membeku dalam kediaman
kami tak lagi
membutuhkan kata.
januari 5, 1987
Inilah wujud kegagalan yang aku raih, kegagalan yang senantiasa akan aku ikuti dengan kegagalan berikutnya
Jumat, 18 Desember 2009
K A B U T
Barangkali kabut tlah mengendap di kudukku
saat malam merayap demikian perlahan seirama detak
darahku begitu dingin meraba pintu
"siapa diluar ?", ku toleh sekelilingku
( dinding-dinding menatap beku )
Tiba-tiba aku disergap ketakutan pada entah
denting piano memantulkan rindu serigala
akupun bernyanyi bersautan dengan dinding
mangatasi waktu hingga tak ku kenal mana
suara mana gema
aku terdiam – dinding-dinding terus bernyanyi
mengulang-ulang suaraku dari awal kembali mula
mengetuk-ketuk hela nafasku
dan kabutpun terus mengendap dengan tangannya
siap menerkam di belakangku
januari 6, 1987
saat malam merayap demikian perlahan seirama detak
darahku begitu dingin meraba pintu
"siapa diluar ?", ku toleh sekelilingku
( dinding-dinding menatap beku )
Tiba-tiba aku disergap ketakutan pada entah
denting piano memantulkan rindu serigala
akupun bernyanyi bersautan dengan dinding
mangatasi waktu hingga tak ku kenal mana
suara mana gema
aku terdiam – dinding-dinding terus bernyanyi
mengulang-ulang suaraku dari awal kembali mula
mengetuk-ketuk hela nafasku
dan kabutpun terus mengendap dengan tangannya
siap menerkam di belakangku
januari 6, 1987
D A U N
Pagi yang menetes dalam ruangku bagai bebayang
memantul di jendela
biasnya terasa buram menggarut kaca
desir angin menggoyangkan daun cemara
berderai jauh – erat menggenggam
tetes-tetes air membentuk kubangan.
Selembar daun luruh
melayang pelan mengucap pamitan
dan getah yang menetes dari dahan
begitu pekat dengan kenangan
sebuah keharuan menyelinap dalam kebersamaan
bukan sekedar pertemuan perpisahan
ia melekat di dahan walau daun
tak lagi berpegangan.
januari 8, 1987
memantul di jendela
biasnya terasa buram menggarut kaca
desir angin menggoyangkan daun cemara
berderai jauh – erat menggenggam
tetes-tetes air membentuk kubangan.
Selembar daun luruh
melayang pelan mengucap pamitan
dan getah yang menetes dari dahan
begitu pekat dengan kenangan
sebuah keharuan menyelinap dalam kebersamaan
bukan sekedar pertemuan perpisahan
ia melekat di dahan walau daun
tak lagi berpegangan.
januari 8, 1987
P I N T U
Aku ketuk pintu pagi-pagi ketika jendela
belum membuka matanya
serumpun mawar berselimut embun di kelopaknya
"selamat pagi adikku, hujan fajar bakal menyambutmu
di pintu, tetes-tetes air membentuk kubangan
barangkali jalan akan menjadi licin
atau barangkali kita bisa bercermin
dengan wajah menggelombang".
Aku ketuk pintu pagi-pagi ketika kupu-kupu
belum mengepakkan sayapnya dan burung
belum menyelesaikan kicaunya
( engkau menggigil saat angin mengusapkan
jemarinya di wajahmu )
pelan-pelan aku menyelimutinya.
januari 11, 1987
belum membuka matanya
serumpun mawar berselimut embun di kelopaknya
"selamat pagi adikku, hujan fajar bakal menyambutmu
di pintu, tetes-tetes air membentuk kubangan
barangkali jalan akan menjadi licin
atau barangkali kita bisa bercermin
dengan wajah menggelombang".
Aku ketuk pintu pagi-pagi ketika kupu-kupu
belum mengepakkan sayapnya dan burung
belum menyelesaikan kicaunya
( engkau menggigil saat angin mengusapkan
jemarinya di wajahmu )
pelan-pelan aku menyelimutinya.
januari 11, 1987
PRASASTI
Ada guratan kecil pada sebuah prasasti
tentang jalan simpang yang bakal kita lewati
"kita perlu singgah".
ucapmu sambil menghembuskan nafas kuat-kuat
"sebelum melangkah menentukan arah".
- angin berhembus disisi kainmu
senja yang tinggal sesobek menggantung di cakrawala
( ingatanku melayang pada Bunda Maria
wajahnya yang perawan menuntunku di pematang
dalam kegelapan ).
Dan pada usia dewasaku yang hampir sampai ujungnya
aku belum mampu menanamkan benih bagi pohonan baru
dengan akar-akar yang kuat mencekeram tanah
serta daun yang lebat menyembunyikan kerindangan
wajahku,
yha wajahku yang tinggal sesobek senja
masih menggantung di cakrawala
( langit kian muram dalam detak jam
kegelapan dengan setia menanti kehadiranku
kembali dalam pelukannya ).
januari 31, 1987
tentang jalan simpang yang bakal kita lewati
"kita perlu singgah".
ucapmu sambil menghembuskan nafas kuat-kuat
"sebelum melangkah menentukan arah".
- angin berhembus disisi kainmu
senja yang tinggal sesobek menggantung di cakrawala
( ingatanku melayang pada Bunda Maria
wajahnya yang perawan menuntunku di pematang
dalam kegelapan ).
Dan pada usia dewasaku yang hampir sampai ujungnya
aku belum mampu menanamkan benih bagi pohonan baru
dengan akar-akar yang kuat mencekeram tanah
serta daun yang lebat menyembunyikan kerindangan
wajahku,
yha wajahku yang tinggal sesobek senja
masih menggantung di cakrawala
( langit kian muram dalam detak jam
kegelapan dengan setia menanti kehadiranku
kembali dalam pelukannya ).
januari 31, 1987
A L A M
Biarkan kelopak memekar dan putik
menebarkan wangi aroma di tamannya
karena anugrah alam seiring dengan hukumnya
terik mentaripun akan turun diselimuti senja
yha, kenapa kita harus bermenung-menung
mereka-reka bentuk impian ?
mawar tak akan menjadi anggrek
dan rajawali tak akan menjelma merpati
betapapun kita memberinya jagung dan bulir padi.
febuari 1, 1987
menebarkan wangi aroma di tamannya
karena anugrah alam seiring dengan hukumnya
terik mentaripun akan turun diselimuti senja
yha, kenapa kita harus bermenung-menung
mereka-reka bentuk impian ?
mawar tak akan menjadi anggrek
dan rajawali tak akan menjelma merpati
betapapun kita memberinya jagung dan bulir padi.
febuari 1, 1987
Kamis, 10 Desember 2009
B A T A S
Engkau awan aku lautan
angin menerbangkan angan
berarak
angin menggelombangkan buih
ke puncak
gemuruh suaraku terus memanggil
mengkais-kais pasir tepian
gemeletar tanganku menggapai
lantas luruh tak sampai
gigil kerinduan diam
di kedalaman.
september awal, 1987
angin menerbangkan angan
berarak
angin menggelombangkan buih
ke puncak
gemuruh suaraku terus memanggil
mengkais-kais pasir tepian
gemeletar tanganku menggapai
lantas luruh tak sampai
gigil kerinduan diam
di kedalaman.
september awal, 1987
P E T A K
Sungguh, keberaturan yang aku jalani
bukanlah keberaturan menurut tatanan
aku melangkah dari satu petak ke petak lain
yang di tiap persinggahan menemu kebebasan
Sungguh, aku ingin memeluknya
sepenuh pelukan aku rapatkan bagai orang lain
rapat memeluk tatanan, yha
ternyata keberaturanku ada dalam kebebasan itu sendiri
dan tujuan yang aku canangkan semenjak dini
aku biarkan bebas mengelana hingga menemu
sumberNya.
september 241987
bukanlah keberaturan menurut tatanan
aku melangkah dari satu petak ke petak lain
yang di tiap persinggahan menemu kebebasan
Sungguh, aku ingin memeluknya
sepenuh pelukan aku rapatkan bagai orang lain
rapat memeluk tatanan, yha
ternyata keberaturanku ada dalam kebebasan itu sendiri
dan tujuan yang aku canangkan semenjak dini
aku biarkan bebas mengelana hingga menemu
sumberNya.
september 241987
K A M A R
Ruangan ini,
dimana dinding-dindingnya berdiri kaku
aku menyulam di dalamnya
lewat rusuk Adam aku menjalin cerita
tentang kegagalan langkah dan duri
yang terserak di jalanan.
Rusuk kananku adalah teman melepas kaki
dari tiap sandungan, langkahpun menjadi ringan
dan ketika rusukku patah, aku terus menyulam
sendirian
mengunci mulut dan relung kamar
dinding membentuk lukisan.
Ruangan ini,
segalanya terasa sempit dan pengap
pikiran tentang langkah dan arah ku letakkan
dan gerak yang terbentuk karena kehendak
ku jalani dengan jiwa pasrah.
september 25, 1987
dimana dinding-dindingnya berdiri kaku
aku menyulam di dalamnya
lewat rusuk Adam aku menjalin cerita
tentang kegagalan langkah dan duri
yang terserak di jalanan.
Rusuk kananku adalah teman melepas kaki
dari tiap sandungan, langkahpun menjadi ringan
dan ketika rusukku patah, aku terus menyulam
sendirian
mengunci mulut dan relung kamar
dinding membentuk lukisan.
Ruangan ini,
segalanya terasa sempit dan pengap
pikiran tentang langkah dan arah ku letakkan
dan gerak yang terbentuk karena kehendak
ku jalani dengan jiwa pasrah.
september 25, 1987
KALAULAH
I.
Kakiku guyah hilang keseimbangan
dalam relung sepi yang sunya
padang tiada tepi
tiada cakrawala langit bumi
dan matahari
terang tiada gelappun tidak
entah apa.
II.
Kalaulah sinar
bukanlah cahaya yang keluar dari sumbernya
kalaulah terang
semuanya tampak serba maya
kalaulah ku kenal diri
masih ada yang menyelinap lepas
membidik matahari.
III.
Kalaulah tlah ku temu
semuanya tak ada dalam genggaman
kalaulah belum
aku sudah
kalaulah sudah
akupun masih entah
yha Allah
kiri kanan atas bawah bukanlah arah
dan yang terlepas bukanlah anak panah
yang melaju menuju sasaran
tapi sasaranlah yang membidik kita
hingga segalanya jadi tiada
nampak jelas di relung-relung samudra.
oktober 18, 1987
Kakiku guyah hilang keseimbangan
dalam relung sepi yang sunya
padang tiada tepi
tiada cakrawala langit bumi
dan matahari
terang tiada gelappun tidak
entah apa.
II.
Kalaulah sinar
bukanlah cahaya yang keluar dari sumbernya
kalaulah terang
semuanya tampak serba maya
kalaulah ku kenal diri
masih ada yang menyelinap lepas
membidik matahari.
III.
Kalaulah tlah ku temu
semuanya tak ada dalam genggaman
kalaulah belum
aku sudah
kalaulah sudah
akupun masih entah
yha Allah
kiri kanan atas bawah bukanlah arah
dan yang terlepas bukanlah anak panah
yang melaju menuju sasaran
tapi sasaranlah yang membidik kita
hingga segalanya jadi tiada
nampak jelas di relung-relung samudra.
oktober 18, 1987
ASMARA SHITA
Ketika Rahwana bangkit dari dalam dada
ku rasakan kehidupan mengaliri darah
lantas ku rentangkan tangan menebar aroma
keyakinanku pada Shita yang terpana
kijang kencana memasang jeratnya
O, wanita mana yang tak tertarik pada kilaunya
sejangkauan hasrat bakal teraih jinaknya
" Wahai Rama kekasih, berikan padaku
kijang kencana bukti cintamu padaku".
Sebagai lelaki Rama tertantang keangkuhannya
melesatlah ia dengan meninggalkan waspada
O, wanita senantiasa penuh prahara terbangkit dari mimpinya
desir cemara menggoyahkan langkah Rama lantas di angkatnya
Lesmana dari dalam rimba memahatkan syair bagi Kakanda
mengantarkan kepergiannya memburu kijang kencana
sumber prahara.
Kijang kencana dengan kegesitannya, mengaburkan langkah Rama
hingga ia kian jauh mengikut angin kembara
Shita Sang Putri penuh hasrat membara terbangkit kecemasannya
saat mentari kian memanjat pucuk-pucuk cemara
diutusnya Lesmana mencari jejak Sang Rama yang kian kabur
dalam kegelapan rimba
kebimbangan meraja di hati Lesmana, lantas perang
kepatuhannya pada Shita Sang Putri mengajaknya pergi mencari
ketaatannya pada Rama Kakanda menyuruhnya untuk menanti
di puncak pertempuran iapun diam
sambil meggores-goreskan jarinya ke bumi, terbakarlah
keangkuhan Shita
sebuah Gita menggeletar di cakrawala
" Wahai Lesmana adikku,
barangkali ada suara di balik getar kata-katamu
dengan kepergian Rama Kakanda mengejar buruannya, Engkau
melantunkan tembang di taman dewasamu dengan tatapan
melekat di kainku
adakah sesuatu yang memberatkanmu hingga kau
tak beranjak dari tempatmu ?
Sementara Rama Kakanda memeras rimba memburu kijang kencana
Engkau mengipas-kipaskan angin pagi menyulam mimpi
bagi hari-hari bakal lewat bersamaku
itukah persembahan baktimu, hai Lesmana ?"
Awan merah mengeliat di angkasa, tengadah
diteriakkannya bait-bait mantra pengukuhan baktinya
" Lihatlah Shita Ayunda,
Ku angkat syair perjalananku selanjutnya
Lesmana bakal melangkah sendirian
mengarungi samudra kehidupan
Lesmana akan sendirian dan akan terus sendirian
tanpa rusuk kanan dalam genggaman
demi baktiku pada Rama Kakanda dan Shita Ayunda
yang telah dibutakan kesadarannya
dengar hai langit, dengar
barangkali nyanyian ini mampu membangkitkan kenyenyakan
Shita Ayunda dari keangkuhannya
bangkitlah wahai,
Lesmana masih awas pandang matanya dalam rimba
gelap dan menyesatkan
aku masih mampu tegak dari hempasan nyanyi surga,
jangan cemaskan kepatuhanku pada Rama Kakanda
Aku turutkan perintahmu Ayunda Shita
sebagai bukti kekosongan jiwaku dari mimpi surga bersamamu".
Lantas dicabutnya pedang menggurat rajah
Kalacakra tergambar di punggung tangannya
Lesmana Adinda terluka
darah mengucur dari lambungnya
dibentangkannya kaki menebas belantara mencari Kakanda
dari mulutnya keluar mantra-mantra mengaliri malam jelaga.
Dalam rimba Shita Sang Putri merajut kecemasannya
tetes-tetes darah yang tercecer dari lambung Lesmana
menjelma sendang yang beriak di dalamnya
kebeningan airnya memantulkan kemasgulan wajah Shita
" Aku tlah keliru mengurai makna" gumamnya
" Kekagumanku pada anugrah Dewata memburamkan kilau belatiku
hingga ketajamannya mengoyak lambung Lesman, O Dewata
anugrahmu tlah membuahkan luka".
tetes-tetes air keluar dari pandangnya membentuk genangan mutiara
seorang Brahmana, muncul dengan kembang setangkai di tangan
" Wahai Shita Sang Putri, hapus air mata dan lihatlah
keceriaan di tanganku adalah bunga-bunga
setangkai di putik tergambar kereta kencana
yang bakal mengantarkanmu menuju kerajaan Dewa".
Shita yang wanita, tergoda wangi cempaka
keharuman menggelitik tangannya meraih bunga
kilat menyambar Shita, terlemparlah ia dari lingkaran Cakra
jeritnya tertinggal di awang-awang
menjelma nyanyian malam.
Asmara Shita menggelepar di cakrawala
suara angin yang melenakan tlah mengkoyak bahtera mimpinya
hingga yang terjelma kemudian adalah tangis berkepanjangan
membumbung bersama api yang membara dari dalam dada.
januari - agustus, 1988
ku rasakan kehidupan mengaliri darah
lantas ku rentangkan tangan menebar aroma
keyakinanku pada Shita yang terpana
kijang kencana memasang jeratnya
O, wanita mana yang tak tertarik pada kilaunya
sejangkauan hasrat bakal teraih jinaknya
" Wahai Rama kekasih, berikan padaku
kijang kencana bukti cintamu padaku".
Sebagai lelaki Rama tertantang keangkuhannya
melesatlah ia dengan meninggalkan waspada
O, wanita senantiasa penuh prahara terbangkit dari mimpinya
desir cemara menggoyahkan langkah Rama lantas di angkatnya
Lesmana dari dalam rimba memahatkan syair bagi Kakanda
mengantarkan kepergiannya memburu kijang kencana
sumber prahara.
Kijang kencana dengan kegesitannya, mengaburkan langkah Rama
hingga ia kian jauh mengikut angin kembara
Shita Sang Putri penuh hasrat membara terbangkit kecemasannya
saat mentari kian memanjat pucuk-pucuk cemara
diutusnya Lesmana mencari jejak Sang Rama yang kian kabur
dalam kegelapan rimba
kebimbangan meraja di hati Lesmana, lantas perang
kepatuhannya pada Shita Sang Putri mengajaknya pergi mencari
ketaatannya pada Rama Kakanda menyuruhnya untuk menanti
di puncak pertempuran iapun diam
sambil meggores-goreskan jarinya ke bumi, terbakarlah
keangkuhan Shita
sebuah Gita menggeletar di cakrawala
" Wahai Lesmana adikku,
barangkali ada suara di balik getar kata-katamu
dengan kepergian Rama Kakanda mengejar buruannya, Engkau
melantunkan tembang di taman dewasamu dengan tatapan
melekat di kainku
adakah sesuatu yang memberatkanmu hingga kau
tak beranjak dari tempatmu ?
Sementara Rama Kakanda memeras rimba memburu kijang kencana
Engkau mengipas-kipaskan angin pagi menyulam mimpi
bagi hari-hari bakal lewat bersamaku
itukah persembahan baktimu, hai Lesmana ?"
Awan merah mengeliat di angkasa, tengadah
diteriakkannya bait-bait mantra pengukuhan baktinya
" Lihatlah Shita Ayunda,
Ku angkat syair perjalananku selanjutnya
Lesmana bakal melangkah sendirian
mengarungi samudra kehidupan
Lesmana akan sendirian dan akan terus sendirian
tanpa rusuk kanan dalam genggaman
demi baktiku pada Rama Kakanda dan Shita Ayunda
yang telah dibutakan kesadarannya
dengar hai langit, dengar
barangkali nyanyian ini mampu membangkitkan kenyenyakan
Shita Ayunda dari keangkuhannya
bangkitlah wahai,
Lesmana masih awas pandang matanya dalam rimba
gelap dan menyesatkan
aku masih mampu tegak dari hempasan nyanyi surga,
jangan cemaskan kepatuhanku pada Rama Kakanda
Aku turutkan perintahmu Ayunda Shita
sebagai bukti kekosongan jiwaku dari mimpi surga bersamamu".
Lantas dicabutnya pedang menggurat rajah
Kalacakra tergambar di punggung tangannya
Lesmana Adinda terluka
darah mengucur dari lambungnya
dibentangkannya kaki menebas belantara mencari Kakanda
dari mulutnya keluar mantra-mantra mengaliri malam jelaga.
Dalam rimba Shita Sang Putri merajut kecemasannya
tetes-tetes darah yang tercecer dari lambung Lesmana
menjelma sendang yang beriak di dalamnya
kebeningan airnya memantulkan kemasgulan wajah Shita
" Aku tlah keliru mengurai makna" gumamnya
" Kekagumanku pada anugrah Dewata memburamkan kilau belatiku
hingga ketajamannya mengoyak lambung Lesman, O Dewata
anugrahmu tlah membuahkan luka".
tetes-tetes air keluar dari pandangnya membentuk genangan mutiara
seorang Brahmana, muncul dengan kembang setangkai di tangan
" Wahai Shita Sang Putri, hapus air mata dan lihatlah
keceriaan di tanganku adalah bunga-bunga
setangkai di putik tergambar kereta kencana
yang bakal mengantarkanmu menuju kerajaan Dewa".
Shita yang wanita, tergoda wangi cempaka
keharuman menggelitik tangannya meraih bunga
kilat menyambar Shita, terlemparlah ia dari lingkaran Cakra
jeritnya tertinggal di awang-awang
menjelma nyanyian malam.
Asmara Shita menggelepar di cakrawala
suara angin yang melenakan tlah mengkoyak bahtera mimpinya
hingga yang terjelma kemudian adalah tangis berkepanjangan
membumbung bersama api yang membara dari dalam dada.
januari - agustus, 1988
Langganan:
Postingan (Atom)
-
PRAKATA Pada awal-mulanya, artinya ketika manusia masih utuh, belum terpecah-pecah dalam watak dan karyanya, maka fungsi seorang agamawan,...
-
MENUJU DERMAGA Mempertemukan jemari kita saat sepi ketika bayang-bayang luruh membentuk rupa suaramu telah sampai sebelum kata lepas tan...