Senin, 04 Januari 2010

J E J A K

Kita sempat bimbang sejenak menatap kuda
kuda berlari di atas gelombang
dengan kaki berjingkat menginjak pasir
mengambang engkau bertanya : " Kanda,
haruskah kita menyisir angin selamanya
hingga senja mengatupkan nafasnya ?
Atau kita biarkan daun palma mengering
tanpa kita sempat merabukannya ?
Sementara kita melangkah kian jauh
dengan rambut basah, kita terus dibayangi
sangsi untuk menghapus setiap jejak.
Atau sebaiknya kita akhiri perjalanan lantas
berpisah arah dengan beban jarak dalam genggaman ?".
Pertanyaan itu terus mengiang sementara kami
masih terus berjalanan berdampingan tanpa
tegur tanpa berbagis sapa
( jejak itu masih tampak olehku
  kian lama kian menjauh tanpa aku
  merasa kehilangan)

tahun keenam jelang tujuh, tahun perjalananku - juni tengah, 1987

A I R

I.
Aku hanyalah seorang pejalan melintas padang
kehausan
seandainya sendang itu fatamorgana
akan ku hirup bayangan yang memantul
dalam keburaman kaca-kaca
( dan jiwaku bersemayan di dalamnya ).

II.
Tak ada air dalam sendang, aku kehausan
sekian lama ngembara menyebrangi padang bayang
air dan fatamorgana sama wujudnya hingga
tiap langkah bagai tetesan embun mengayuh harap
nafaspun luruh jarak tak tersentuh
butir keringat jadi obat bagi lelah dahaga
( sementara mata air dalam dada
  memenuhi rongga kepalaku ).

III.
Kerinduan adalah cakrawala
dimana batasnya fatamorgana
kehausan padang pada mata
air di puncak dahaga
" nDog pengamun-amun"

Juni 87 - Jan 2010

P O T R E T

Ku temui jajar pohonan menaungi jauh
beranda rumahmu lindung daunan, gemerisik
jemari bermain, meraba hulu kerisku kembangsetanggi
pertama Adam meniupkan suruknya di kelindungan taman
(wajah arif Bapaku mengintip dari balik jubahnya)
lautpun mengepak berputaran diatas rambutmu
                      samar gambaran
     Taman Eden menjelma bayang-bayang
aku kian jauh mengelana menempuh badai
gelombang tubuhmu yang membara membuatku terpesona
pada buih yang memerak di cakrawala
pada bias surya yang muncul seusai badai reda
pada kediaman hati yang saling bicara
barangkali yha,
lautpun membutuhkan gelombang di kedalaman diamnya
membutuhkan karang agar buih senantiasa terkembang
membutuhkan pantai bagi lidah-lidah nakal yang berkejaran
kerna laut bukanlah laut jika tak berbuih gelombang
dan aku,
bukanlah chochro tanpa bara dalam sekamnya.

juni 1, 1986

R E L U N G

Gugur bukanlah kekalahan melainkan kemenangan
yang terselesaikan sebelum saat(nya)
dan peluh darah yang tlah tertanamkan tumbuh
berkembang seirama denting pedang
bukan kemenangan yang mampu menghentikan pertempuran
kerna jantung(nya) koyak darah berserak
ketakberdayaan tlah dipaksa-kuasakan oleh kehendak
darahpun terus mengalir lewat nadi
                         mengalir lewat luka
                                 sama pedihnya
                 terbuka mata dalam buta
                 tertutup mata dalam jaga
bagi kemenangan Kristus bukan kerna Raja
melainkan kerna salib
di pundaknya.

mei 30, 1987

A R A H

I.
Aku harus memulai hidup dalam keberaturan
dari awal langkah yang menentukan
kerna bagaimanapun tujuan hanya bisa
ditempuh dengan jalan
betapapun berat untuk dilaksanakan
tapi kesadaran akan meringankan beban
dan jarakpun kian dekat dari jangkauan.

II.
Segalanya tlah dimulai
entah kapan kan sampai
tangan menggapai
Tuhan
beri aku pegangan
dalam meniti jalan.

III.
Beri aku sesuatu
sebelum terhenti langkahku.

Mei 10, 1987

G E T A R

Betapa sukar gerak dan diam dibedakan
kerna keterbatasan mata dan kata
manusia berdiri di luar jangauannya
hingga aku senantiasa dilanda tanya
tentang getar dan suara
haruskah aku menggetarkan suara
atau menyuarakan getar
di tiap langkahku ?.

mei 1, 1987

Kamis, 24 Desember 2009

B U M I

Aku senantiasa kembali, menatap langit bertepi bumi
disini, Adam pernah merajut rusuknya dengan buih
pucuk gelombang menghempas cakrawala, O
Bethara Surya - betapa nakalnya
Kunti Talibrata terpanggang diatas bara
telinganya - seorang bocah bermain membentuk gua
(  gelombang datang menyurukkan pasir
   lidah buih Bathara Surya meniti tepian kainnya
   tersingkap angin merona wajahnya )

Yha, jiwaku kanak-kanak
jiwa Kunthi bermain ayunan
tangan ombak menghempas
karang batuan.

Aku kembali berdiri, sendiri menatap langit-langit bumi
dimana terkubur benih kenakalanku. O, perihnya dahaga
ku teguk ludah dari wangi mulut penuh aroma
mengaburkan pandang kesadaranku.

Aku berdiri sendiri kini, bercermin bumi
yang senantiasa aku injak dengan kepala tengadah.

april 22, 1987

T A H U N

Suara jiwa yang mengalun dahaga
rinduku pada kembang - sedap malam
ku tanam setangkai dua di kegelapan
kertas-kertas, daun bayangan matahari
kian tergelincir menyemburat warna jingga
membias wajah
       wajahku
                wajah kita
rona senja mencium kening cakrawala senantiasa
merekah pagi terik siangnya lantas sembunyi
kegaiban
    kearifan
usia terus berjalan melewati malam.

maret 31, 1987

Rabu, 23 Desember 2009

T E M B A N G

Betapa inginku menuliskan tembang tentang awan
muara negeri yang mengalirkan angin keras
dalam rusuk Adam berongga nada - sumbang
mempesona kelana memasuki gerbangnya
     ( bias-bias langit di cakrawala
       aku arungi bersama ).

Barangkali aku mulai menyadari arti
rumah yang kau huni tanpa upacara pagi hari
itu bukanlah milikku
dan pesta setanggi bunga yang ku taburkan di antara kamar
dan altar adalah riak gelombang
membentuk fatamorgana
dan itu bukanlah istana ujung perjalanan dimana aku
menyusuri jejak resia dengan dinding
dindingnya berhias darah air mata
langkahpun jadi sendat dengan tangan senantiasa
menggores-gores kaca hingga wajahku berembun
tak terbaca
akupun terus bermimpi tentang kolam dan taman
akupun terus bernyanyi tentang gelombang dan awan
akupun kian jauh mengembara lantas lupa kembali
rumahku sunyi tanpa hiasan
dindingnya mata beratap mega nafasnya
entah pergi kemana.

Riak gelombang datang berulang
menyurukkan tembang mimpi siang
yang senantiasa aku basahi dengan darah dan kurban
yang tak sempat aku benahi ketika pagi menjelang.

Dengan suara sumbang akupun nembang
tentang seorang kanak-kanak yang meniti hari
dengan menyulam sisa kainnya yang robek
disana-sini.

Oktober 87, revisi desember 24

ASMARA RAMA

Barangkali aku tlah sampai batas
kepasrahanku sekedar wujud rasa putus asa karna
bagaimanapun rendahnya langit bumi tak kuasa
'tuk menggamitnya
hanya kening malam yang kelam hitam
bagai sosok kemesraan dan akrabnya bebayang
cinta dalam kegelapan saling menyembunyikan tangan
dengan irama gaib menggelepar debar
buah Adam - gairah, cinta sama wujud
menara api bagi Shita di puncak asmara Rama
bara panas yang menjilat angkasa adalah wujud
kesetiaan dan kesangsian yang berebut
          keangkuhan - kebenaran
terasa begitu samar ntuk diperbincangkan
dan langit kian hitam hanyalah saksi dan selalu
jadi saksi
tentang keangkuhan yang senantiasa mengaburkan arti
kebenaran.

februari - september 1987

D E W A R U C I

Yang tak terpegang itu dingin angin
tiada berdaging ding - ding - ding
darahnya mengalir di angkasa bunga
tujuh samudra kedalaman diamnya
cahya delapan di keheningan henengnya
- kang ijo maya-maya tanpa rupo
  kang sepi sepa samun tanpa swara
  tan kiniblat araning Rat
  yha kang sidem premanem ayem tentrem
  tan bungah tan susah tan gumragah alaming
                                Rah
                        Rah kang Roh
                        Roh kang Rat
                        Rat kang Dat
kabeh bali ing telenging samudra
kuping kiwa.

februari 19, 1987

PRINT AD

Add caption ...