Aku semakin jauh dariMu
seiring detak waktu
memburuMu
tak ada getar dalam debar, sungguh
aku tak sabar
menelusuri lorong waktu tak berpintu
luruh sujudku.
Dinding ini menghambat langkah
serangkaian logika dan dogma
tak jua menyentuhMu
aku menggeliat
melepas semua jubah di hadapanMu
kerna ku ingin menemu yang tlah hilang
dalam ruangku, yha Allah
berat kaki ini melangkah
dengan beban jarak ada di pundak.
26 maret 2010
Inilah wujud kegagalan yang aku raih, kegagalan yang senantiasa akan aku ikuti dengan kegagalan berikutnya
Kamis, 25 Maret 2010
Selasa, 23 Maret 2010
LUKISAN SENJA
Ada sedikit kegelisahan pada bayang
bayang menusuk dinding
ruangku
penuh coretan membentuk sketsa
wajahmu
senyum tipis
mata berembun ingin ku selesaikan
dalam lukisan
torehan warna atau luka yg bakal menjelma
dalam pigura.
Kita menemu jalan simpang dengan menyandang beban
haruskah kita kembali kemula membawa mimpi remaja ?
Tidak adikku,
sebaiknya kita menekuni lorong waktu
yang mengantarkan kita pada arah yang berbeda
cukupkanlah cerita itu sebagai pemanis
mimpi kita
saat hari merambati senja.
tengah malam jelang 23, maret 2010
bayang menusuk dinding
ruangku
penuh coretan membentuk sketsa
wajahmu
senyum tipis
mata berembun ingin ku selesaikan
dalam lukisan
torehan warna atau luka yg bakal menjelma
dalam pigura.
Kita menemu jalan simpang dengan menyandang beban
haruskah kita kembali kemula membawa mimpi remaja ?
Tidak adikku,
sebaiknya kita menekuni lorong waktu
yang mengantarkan kita pada arah yang berbeda
cukupkanlah cerita itu sebagai pemanis
mimpi kita
saat hari merambati senja.
tengah malam jelang 23, maret 2010
Senin, 01 Maret 2010
PASIR TEPIAN
Matahari yang engkau tanam di jemari
mengalirkan kerinduanku pada pasir
pantai diamku bergelora
menggapai-gapaikan tangan ke angkasa
meraih awan di cakrawala menyisakan buih
di tepian.
Ku kais-kaiskan kaki
barangkali ada sepotong awan tertinggal
di ujung buih yang terpantul, berkejaran
menghiasi sore-soreku di pasir
tepian.
Adikku,
biarkanlah yang masih bersisa mengisi celah
hari kita dalam kediaman langit
yang senantiasa biru
dalam tatap mata senjaku.
mengalirkan kerinduanku pada pasir
pantai diamku bergelora
menggapai-gapaikan tangan ke angkasa
meraih awan di cakrawala menyisakan buih
di tepian.
Ku kais-kaiskan kaki
barangkali ada sepotong awan tertinggal
di ujung buih yang terpantul, berkejaran
menghiasi sore-soreku di pasir
tepian.
Adikku,
biarkanlah yang masih bersisa mengisi celah
hari kita dalam kediaman langit
yang senantiasa biru
dalam tatap mata senjaku.
Sabtu, 20 Februari 2010
SEDAP MALAM
Sedap malam yang biasa aku kirim di ulang tahunmu
kini ku tanam di pekarangan hingga aromanya
merasuk mimpi
kubiarkan ia tumbuh berbunga sepi
berakar matahari
menghunjam hingga dasar bumi.
Dan malam ini ku kirim setangkai
saat usia kita hampir sampai
kini ku tanam di pekarangan hingga aromanya
merasuk mimpi
kubiarkan ia tumbuh berbunga sepi
berakar matahari
menghunjam hingga dasar bumi.
Dan malam ini ku kirim setangkai
saat usia kita hampir sampai
dinihari 19 februari 2010
Minggu, 17 Januari 2010
ANAK PANAH
Tak perlu takut dalam menghadapi hidup ini,
akan segala kecemasan dan ketakutan menghantui
kerna kecemasan adalah budi akal
pikir dan pertimbangan
membuahkan kebimbangan
kerna ketakutan memberati langkah
kerna ketakutan membelokkan arah
bagi kaki yang akan melangkah
maka tanggalkanlah
teruslah berjalan dengan satu arah bidikan
segala aral akan terselesaikan
kerna langkah kita adalah atas kehendakNya.
maka berserahlah
jalan kita akan ada dalam bimbingaNya.
17 januari dinihari 2010
akan segala kecemasan dan ketakutan menghantui
kerna kecemasan adalah budi akal
pikir dan pertimbangan
membuahkan kebimbangan
kerna ketakutan memberati langkah
kerna ketakutan membelokkan arah
bagi kaki yang akan melangkah
maka tanggalkanlah
teruslah berjalan dengan satu arah bidikan
segala aral akan terselesaikan
kerna langkah kita adalah atas kehendakNya.
maka berserahlah
jalan kita akan ada dalam bimbingaNya.
17 januari dinihari 2010
RASA PANGRASA
Sugih iku dudu rojo brono
dudu bondo, dudu turonggo
Sugih iku cukup
ing samubarang
lan sugih iku ora melik
yen isih melik iku isih kurang
yen isih kurang iku mlarat
yen mlarat banjur kere
anjejaluk ngiwa nengen ora ono cukupe
lali karo sing maringi
sugih mlarat anane neng ati
neng budi
neng rasa
sajroning rasa
rumongso
ra ana sing luwih kajawi
kang Kuwasa.
catatan dini hari 17 januari 2010
dudu bondo, dudu turonggo
Sugih iku cukup
ing samubarang
lan sugih iku ora melik
yen isih melik iku isih kurang
yen isih kurang iku mlarat
yen mlarat banjur kere
anjejaluk ngiwa nengen ora ono cukupe
lali karo sing maringi
sugih mlarat anane neng ati
neng budi
neng rasa
sajroning rasa
rumongso
ra ana sing luwih kajawi
kang Kuwasa.
catatan dini hari 17 januari 2010
Rabu, 13 Januari 2010
CATATAN BUAT SEORANG SAHABAT
Mengapa harus menangis mengantar kepergian,
kerna tangis menghanyutkan kepedihan
menjadikan beban bagi langkah menuju haribaan,
hapus airmata dan lantunkan doa
memanjati langit menerangi jalan
dan setanggi bunga akan menghiasi
jalan panjang menuju alam
Keabadian.
dini januari 12, 2010
kerna tangis menghanyutkan kepedihan
menjadikan beban bagi langkah menuju haribaan,
hapus airmata dan lantunkan doa
memanjati langit menerangi jalan
dan setanggi bunga akan menghiasi
jalan panjang menuju alam
Keabadian.
dini januari 12, 2010
Selasa, 12 Januari 2010
DI JENDELA MATAMU KU LIHAT EMBUN
Ketika kau menyapaku pagi-pagi
aku baru selesai membenahi mimpi
lewat kisi jendela ku lihat embun
mengembang di pelupuk matamu : Sendat
bahumu sesekali berguncang menahan banjir
hanya tarikan bibirmu tak mampu menyembunyikan luka
barangkali dadamu demikian sesak menahan prahara
yang setiap saat bakal melanda pertemuan kita.
Pelan ku tutup jendela
agar tak kulihat tangis pecah dibibir cakrawala
agar tak ku dengar lolong serigala memanggil purnama
ku tekan pintu rapat-rapat
agar aku tak terhanyut kedalam pusaran
gelombang tubuhmu menggelora.
Aku terduduk di pojokan,
kakiku gemetar menahan badai yang menggema di kepala
Adikku, keluhku pelan
kita cukupkan sampai disini
jangan rapatkan perahu yang kita nahkodai
agar kita tidak terbalik
menenggelamkan semuanya.
Masih tersisa isak ketika kau menyeret langkahmu pergi
menghiasi malam pekuburan sepi.
Januari 11. 2010
aku baru selesai membenahi mimpi
lewat kisi jendela ku lihat embun
mengembang di pelupuk matamu : Sendat
bahumu sesekali berguncang menahan banjir
hanya tarikan bibirmu tak mampu menyembunyikan luka
barangkali dadamu demikian sesak menahan prahara
yang setiap saat bakal melanda pertemuan kita.
Pelan ku tutup jendela
agar tak kulihat tangis pecah dibibir cakrawala
agar tak ku dengar lolong serigala memanggil purnama
ku tekan pintu rapat-rapat
agar aku tak terhanyut kedalam pusaran
gelombang tubuhmu menggelora.
Aku terduduk di pojokan,
kakiku gemetar menahan badai yang menggema di kepala
Adikku, keluhku pelan
kita cukupkan sampai disini
jangan rapatkan perahu yang kita nahkodai
agar kita tidak terbalik
menenggelamkan semuanya.
Masih tersisa isak ketika kau menyeret langkahmu pergi
menghiasi malam pekuburan sepi.
Januari 11. 2010
Minggu, 10 Januari 2010
DAUN GUGUR SATU
Kediamanmu menyimpan berjuta makna
kegalauan rindu
rentang waktu
daun gugur satu
satu.
Mulutku terkunci menatap langit
buram
ku lihat matamu basah kerinduan
ku palingkan wajah tak ingin terhanyut gelisah
lantas ku hunjamkan belati
engkau terhenyak lantas berlari mendekap
prahara berkecamuk dalam dada.
Ku tatap kepergianmu dengan nyanyi serigala
mengoyak mimpimu tergantung di pelupuk mata
kecamuk badai bulan purnama.
Ku cium bau luka betapapun sakitnya
kulakukan demi kasihku pada buah cinta
yang ku tanamkan di padang para
dan demi sumpahku pada langit ku pegang
nafas surga
agar buah tanamanku senantiasa terjaga
di halamanku rumahku berpagar mantra.
Ku jaga buah tanamanku dari angan mimpi remaja
dan ku buka jendela pagi menabikkan salam
"Tak kan ku tinggalkan anak-anakku kerna ia titipan"
dinihari 7januari 2010
kegalauan rindu
rentang waktu
daun gugur satu
satu.
Mulutku terkunci menatap langit
buram
ku lihat matamu basah kerinduan
ku palingkan wajah tak ingin terhanyut gelisah
lantas ku hunjamkan belati
engkau terhenyak lantas berlari mendekap
prahara berkecamuk dalam dada.
Ku tatap kepergianmu dengan nyanyi serigala
mengoyak mimpimu tergantung di pelupuk mata
kecamuk badai bulan purnama.
Ku cium bau luka betapapun sakitnya
kulakukan demi kasihku pada buah cinta
yang ku tanamkan di padang para
dan demi sumpahku pada langit ku pegang
nafas surga
agar buah tanamanku senantiasa terjaga
di halamanku rumahku berpagar mantra.
Ku jaga buah tanamanku dari angan mimpi remaja
dan ku buka jendela pagi menabikkan salam
"Tak kan ku tinggalkan anak-anakku kerna ia titipan"
dinihari 7januari 2010
DALAM GELISAH MIMPI, KU TANAMKAN MELATI
Seandainya kita memaksakan pertemuan
barangkali halaman ini akan menjadi lautan
yang bakal menumpahkan mimpi-angan
dan kenangan
bakal mengalir dengan derasnya tanpa kita
mampu mencegahnya.
Ku hindari pertemuan ini
kerna kuyakini sebuah sikap yang ku tahu
kita belum sama-sama siap berhadapan
sebagai awan dan lautan
yang dipertemukan dalam tatap mata
lengkung cakrawala.
Kerna awan berselimut angan dan laut
menyimpan gelombang mimpi malam
maka kutikam jantungmu menembus
jantungku
agar luka ini menjadi pertanda bagi diri kita
bahwa disisi dan belakang kita adalah titipan
yang senantiasa harus kita jaga agar jangan sampai terluka
betapapun rapat kita menyembunyikannya.
Telah lewat lima purnama kau tak menyapaku
ku kirimkan mawar setanggi saat malam menyelimuti sepi
saat engkau tertidur dalam gelisah mimpi
kutanamkan melati di halaman agar wanginya
tercium dari beranda rumahmu lantas membangunkan mimpimu
bahwa pagi hari tlah menyambutmu dengan celoteh
kanak-kanak yang bersih dari prasangka.
Adikku,
tanamkanlah cinta dalam rumahmu, perwujudan cinta kita
kerna garis tlah kita buat dan salib ada di pundak
maka darah yang mengucur dari luka adalah
seteguk dahaga bagi domba-domba
menemu gembala.
dinihari sepuluh, jabuari 2010
barangkali halaman ini akan menjadi lautan
yang bakal menumpahkan mimpi-angan
dan kenangan
bakal mengalir dengan derasnya tanpa kita
mampu mencegahnya.
Ku hindari pertemuan ini
kerna kuyakini sebuah sikap yang ku tahu
kita belum sama-sama siap berhadapan
sebagai awan dan lautan
yang dipertemukan dalam tatap mata
lengkung cakrawala.
Kerna awan berselimut angan dan laut
menyimpan gelombang mimpi malam
maka kutikam jantungmu menembus
jantungku
agar luka ini menjadi pertanda bagi diri kita
bahwa disisi dan belakang kita adalah titipan
yang senantiasa harus kita jaga agar jangan sampai terluka
betapapun rapat kita menyembunyikannya.
Telah lewat lima purnama kau tak menyapaku
ku kirimkan mawar setanggi saat malam menyelimuti sepi
saat engkau tertidur dalam gelisah mimpi
kutanamkan melati di halaman agar wanginya
tercium dari beranda rumahmu lantas membangunkan mimpimu
bahwa pagi hari tlah menyambutmu dengan celoteh
kanak-kanak yang bersih dari prasangka.
Adikku,
tanamkanlah cinta dalam rumahmu, perwujudan cinta kita
kerna garis tlah kita buat dan salib ada di pundak
maka darah yang mengucur dari luka adalah
seteguk dahaga bagi domba-domba
menemu gembala.
dinihari sepuluh, jabuari 2010
GERIMIS TURUN MENJEMPUT MALAM
O, dahaga jiwaku
beri seteguk anggur darahmu agar mengalir
cinta
dari rahim kekasih
menuju muaraMu.
Entah berapa purnama meninggalkanmu
menyusuri lorong kota menghirup debu jalanan
membuatku bergairah lupa arah
gemerlap lampu dan gelimang tawa mengantarku
pada tanya
inikah yang ku cari
inikah yang membuatku berlari ?
Jalan-jalan kota penuh warna
aku terpesona lantas masuk kedalamnya
memanjati dinding cahaya dan remang gemintang
membuatku kian kehausan
tlah ku raih matahari dan ku genggam rembulan jiwaku
aku kelaparan
aku kehausan
aku meradang
ku hirup gedung
ku telan sampah
tapi dahaga ini senantiasa memenuhi kepala.
Akupun kembali kepadamu dengan ragu
masihkah Engkau mau menerimaku ?
Hujan sore membuatku menggigil dihadapanMu
yang ku raih hanyalah gemerlap fatamorgana
aku merasa tak punya apa tuk ku persembahkan
ketika senja mulai turun mengatupkan matanya.
Dengan sendat ku tanyakan kepadaMu
masihkah kau mau menerimaku ?
(kau hanya tersenyum, tanpa sepatah kata)
diluar gerimis masih turun dan malam
kian rapat menyelimuti kegelapan.
dalam gerimis januari 3, 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Nafasku berkejaran menanti fajar kegelapan sepanjang hari membuatku sesak bilur-bilur pelangi nanar kelopak mata semalaman lembab meng...
-
PRAKATA Pada awal-mulanya, artinya ketika manusia masih utuh, belum terpecah-pecah dalam watak dan karyanya, maka fungsi seorang agamawan,...