Rabu, 19 Mei 2010

NYANYI LUKA

Ku lihat gerimis di matamu
saat kau merenda kenangan
di beranda rumahku.

Matakupun berkabut
menorehkan jarum di sepanjang langkah
kepergianmu.

Jalan-jalanpun terasa asing
ada yang hilang di separo usiaku
barangkali luka ini terlampau manis
tuk dinikmati di usia senja.

Selamat malam adikku,
walau badan penuh luka kita senantiasa
mengelusnya seakan esok
bakal tampil purnama dari nyanyi luka.

Saat anak-anak tertidur dengan mimpi
kitapun asyik merajut sepi.

April 12, 2010

PERBATASAN

Diperbatasan itu, maut menantiku
dengan senyumnya yang ramah
menggelayut ujung-ujung rambutku
yang memutih ditelan waktu.

Masih sempat ku cumbu sepi
di sela lanhkahku yang kerap terhenti
mestinya ku letakkan semua
disini
benih tanaman janganlah jadi beban
kerna garis edar pasti terlewati
betapapun lamban waktu menyemuti.

Pada akhirnya aku harus kembali
menyusuri langkah
sendiri.

April 30 jelang dini 2010

Kamis, 25 Maret 2010

DATANGLAH WAHAI

Kegamanganku pada mimpi malam
sepi
mentautkan tabir kerinduan yang lama
ku tinggalkan
dalam pertemuan resia bersama
dibawah bentangan kabut cahya kasihmu
lirih memanggil
sedemikian lirih
hingga terdengar galau gelisahku.

Wahai kenbalilah
kidung yang senantiasa ku dendangkan
saat meniti sepi bersamamu.

Aku ingin pulang
menyusuri keterasingan bau tubuhmu
menggemerlap mimpi
tanpa beban memenuhi dada
tanpa kegelisahan menghuni kepala
dalam kekosongan Wung
menemu Nur pijarMu.

Datanglah wahai,
kesunyian abadi
menghuni ruangku
menjelang mati.


memasuki sepi 27 Maret 2010

LURUH SUJUDKU

Aku semakin jauh dariMu
seiring detak waktu
memburuMu
tak ada getar dalam debar, sungguh
aku tak sabar
menelusuri lorong waktu tak berpintu
luruh sujudku.

Dinding ini menghambat langkah
serangkaian logika dan dogma
tak jua menyentuhMu
aku menggeliat
melepas semua jubah di hadapanMu
kerna ku ingin menemu yang tlah hilang
dalam ruangku, yha Allah
berat kaki ini melangkah
dengan beban jarak ada di pundak.

26 maret 2010

Selasa, 23 Maret 2010

LUKISAN SENJA

Ada sedikit kegelisahan pada bayang
bayang menusuk dinding
ruangku
penuh coretan membentuk sketsa
wajahmu
senyum tipis
mata berembun ingin ku selesaikan
dalam lukisan
torehan warna atau luka yg bakal menjelma
dalam pigura.

Kita menemu jalan simpang dengan menyandang beban
haruskah kita kembali kemula membawa mimpi remaja ?

Tidak adikku,
sebaiknya kita menekuni lorong waktu
yang mengantarkan kita pada arah yang berbeda
cukupkanlah cerita itu sebagai pemanis
mimpi kita
saat hari merambati senja.

tengah malam jelang 23, maret 2010

Senin, 01 Maret 2010

PASIR TEPIAN

Matahari yang engkau tanam di jemari
mengalirkan kerinduanku pada pasir
pantai diamku bergelora
menggapai-gapaikan tangan ke angkasa
meraih awan di cakrawala menyisakan buih
di tepian.

Ku kais-kaiskan kaki
barangkali ada sepotong awan tertinggal
di ujung buih yang terpantul, berkejaran
menghiasi sore-soreku di pasir
tepian.

Adikku,
biarkanlah yang masih bersisa mengisi celah
hari kita dalam kediaman langit
yang senantiasa biru
dalam tatap mata senjaku.

Sabtu, 20 Februari 2010

SEDAP MALAM


Sedap malam yang biasa aku kirim di ulang tahunmu
kini ku tanam di pekarangan hingga aromanya
merasuk mimpi
kubiarkan ia tumbuh berbunga sepi
berakar matahari
menghunjam hingga dasar bumi.

Dan malam ini ku kirim setangkai
saat usia kita hampir sampai
 
dinihari 19 februari 2010

Minggu, 17 Januari 2010

ANAK PANAH

Tak perlu takut dalam menghadapi hidup ini,
akan segala kecemasan dan ketakutan menghantui
kerna kecemasan adalah budi akal
pikir dan pertimbangan
membuahkan kebimbangan
kerna ketakutan memberati langkah
kerna ketakutan membelokkan arah
bagi kaki yang akan melangkah
maka tanggalkanlah
teruslah berjalan dengan satu arah bidikan
segala aral akan terselesaikan
kerna langkah kita adalah atas kehendakNya.
maka berserahlah
jalan kita akan ada dalam bimbingaNya.

17 januari dinihari 2010

RASA PANGRASA

Sugih iku dudu rojo brono
dudu bondo, dudu turonggo
Sugih iku cukup
ing samubarang
lan sugih iku ora melik
       yen isih melik iku isih kurang
              yen isih kurang iku  mlarat
                     yen mlarat banjur kere
anjejaluk ngiwa nengen ora ono cukupe
lali karo sing maringi
sugih mlarat anane neng ati
                       neng budi
               neng rasa
sajroning rasa
rumongso
ra ana sing luwih kajawi
kang Kuwasa.

catatan dini hari 17 januari 2010

Rabu, 13 Januari 2010

CATATAN BUAT SEORANG SAHABAT

Mengapa harus menangis mengantar kepergian,
kerna tangis menghanyutkan kepedihan
menjadikan beban bagi langkah menuju haribaan,
hapus airmata dan lantunkan doa
memanjati langit menerangi jalan
dan setanggi bunga akan menghiasi
jalan panjang menuju alam
Keabadian.

dini januari 12, 2010

Selasa, 12 Januari 2010

DI JENDELA MATAMU KU LIHAT EMBUN

Ketika kau menyapaku pagi-pagi
aku baru selesai membenahi mimpi
lewat kisi jendela ku lihat embun
mengembang di pelupuk matamu : Sendat
bahumu sesekali berguncang menahan banjir
hanya tarikan bibirmu tak mampu menyembunyikan luka
barangkali dadamu demikian sesak menahan prahara
yang setiap saat bakal melanda pertemuan kita.

Pelan ku tutup jendela
agar tak kulihat tangis pecah dibibir cakrawala
agar tak ku dengar lolong serigala memanggil purnama
ku tekan pintu rapat-rapat
agar aku tak terhanyut kedalam pusaran
gelombang tubuhmu menggelora.

Aku terduduk di pojokan,
kakiku gemetar menahan badai yang menggema di kepala
Adikku, keluhku pelan
kita cukupkan sampai disini
jangan rapatkan perahu yang kita nahkodai
agar kita tidak terbalik
menenggelamkan semuanya.

Masih tersisa isak ketika kau menyeret langkahmu pergi
menghiasi malam pekuburan sepi.

Januari 11. 2010

PRINT AD

Add caption ...