Ketika hari mulai terang
sisa embun masih menempel di daunan
ku basuh muka dan kaki
agar mata kian awas menatap jalanan
dan kaki ringan melangkah
menujuMu.
Ketika bait-bait puisi bergema seusai maghrib tiba
aku bersimpuh di kakiMu
menumpahkan segala noda yang melekat di jubahku
ku seret dengan keponggahan semu
Sungguh, aku malu
kemana kan ku surukkan wajah ini di hadapanMu.
Andai bisa ku hapus jejak ini
dengan segala kerendahan kan ku lakukan
dengan langkah tertatih ku serahkan
badan ini seutuhnya.
Aku ingin pulang
saat maghrib mulai menjelang.
dinihari jelang sahur, agustus 28, 2010
Inilah wujud kegagalan yang aku raih, kegagalan yang senantiasa akan aku ikuti dengan kegagalan berikutnya
Jumat, 15 Oktober 2010
Kamis, 14 Oktober 2010
SAHABAT
Barangkali kebencian tlah kau tanam di pelataran
tapi aku tidak
kita senantiasa berbeda cara bertanam
walau benih yang kita tebar sama
perbedaan itulah yang mengasyikkan
buat bertukar pandang dan mengenang
bahwa perpisahan bukanlah memisahkan jarak
bagi sebuah kebersamaan
segalanya harus terjalin tanpa beban
mengalirlah air menuju kerenadahan
dan kepala jangan kau dongakkan
kerna dalam kerendahan terletak ketinggian
dalam ketinggian terletak kerendahan
mari kita saling berjabatan sahabatku
saat usia sudah menunggu.
jelang tidur dini hari, oktober 10, 2010.
tapi aku tidak
kita senantiasa berbeda cara bertanam
walau benih yang kita tebar sama
perbedaan itulah yang mengasyikkan
buat bertukar pandang dan mengenang
bahwa perpisahan bukanlah memisahkan jarak
bagi sebuah kebersamaan
segalanya harus terjalin tanpa beban
mengalirlah air menuju kerenadahan
dan kepala jangan kau dongakkan
kerna dalam kerendahan terletak ketinggian
dalam ketinggian terletak kerendahan
mari kita saling berjabatan sahabatku
saat usia sudah menunggu.
jelang tidur dini hari, oktober 10, 2010.
FRAGMEN PAGI
Hujan tengah malam membawa dingin
tampias
di tritisan wajahku basah kerinduan
bayang lorong sepi ngadisuryan
tembok tegak bisu dindingnya
terpahat remajaku
kusam berdebu
disini
pertama benih ku tanam
sedap malam dalam pingitan
pecah tangisnya
menghilir ke lautan.
Tembang kian nglangut menyisir wuwungan
dan derai daunan ditiup angin selatan
membuatku terhempas di tebing karang
gigilku menggelombang kenangan
pada bibir-bibir pantai yang memagutku penuh gairah
pada buih ombak yang berkejaran di punggung kegelapan
membuncah keremajaanku yang gagal
mengendapkan tarian perang.
Awan kian mengambang tersaput mendung
ku tatap jalanan yang kian berkabut sisa badai semalaman
aku harus melangkah berpantang untuk menyerah
aku harus jadi lelaki dimatamu dan disikapku
tlah ku tebar benih di ladangmu tak kan ku tinggalkan
walau kita tak tahu apa terbentang di depan.
Sinar mentari yang menembus sela daunan
terpantul di wajahmu yang menggantung senyuman
tak terlihat kegelisahan di matamu
walau embun sedikit mengembang.
Aku terhenyak ketika tangan mungilmu
memelukku dengan kecupan sambil mengalungkan
masa depanmu dalam dekapan.
tampias
di tritisan wajahku basah kerinduan
bayang lorong sepi ngadisuryan
tembok tegak bisu dindingnya
terpahat remajaku
kusam berdebu
disini
pertama benih ku tanam
sedap malam dalam pingitan
pecah tangisnya
menghilir ke lautan.
Tembang kian nglangut menyisir wuwungan
dan derai daunan ditiup angin selatan
membuatku terhempas di tebing karang
gigilku menggelombang kenangan
pada bibir-bibir pantai yang memagutku penuh gairah
pada buih ombak yang berkejaran di punggung kegelapan
membuncah keremajaanku yang gagal
mengendapkan tarian perang.
Awan kian mengambang tersaput mendung
ku tatap jalanan yang kian berkabut sisa badai semalaman
aku harus melangkah berpantang untuk menyerah
aku harus jadi lelaki dimatamu dan disikapku
tlah ku tebar benih di ladangmu tak kan ku tinggalkan
walau kita tak tahu apa terbentang di depan.
Sinar mentari yang menembus sela daunan
terpantul di wajahmu yang menggantung senyuman
tak terlihat kegelisahan di matamu
walau embun sedikit mengembang.
Aku terhenyak ketika tangan mungilmu
memelukku dengan kecupan sambil mengalungkan
masa depanmu dalam dekapan.
Rabu, 25 Agustus 2010
TANGIS BOCAH
Sembilu terhunjam di keheningan
tangis bocah tengah malam
di puncak kelaparan
Duh, gemanya
bagai lolong serigala merindukan purnama.
jelang sahur 25 agustus 2010
tangis bocah tengah malam
di puncak kelaparan
Duh, gemanya
bagai lolong serigala merindukan purnama.
jelang sahur 25 agustus 2010
NYANYI DORNA
Barangkali ini suatu kehancuran atau
barangkali sebuah keberhasilan
bayang-bayang Yudas senantiasa mengikuti langkahku
haruskah aku menjadi Yesus baru
yang menerima langkah Yudas
dalam perjamuan suci.
Entah berapakali badai menghantam
aku senantiasa memaafkan
ketika engkau memaku tanganku di penyaliban
tangan ini aku ulurkan
menuju bukit dengan beban salib aku terima
sebagai jalan.
Kini aku bangkit menyandang luka
kerna kemanusiaanku juga
dan penyesalan yang engkau dengungkan
adalah nyanyi durna di padang kembang
dan tembang kumbang di halaman
menjelma tanaman yang menghunjam
akar senantiasa menumbuhkan tunas baru
yang bakal melindungiku dari terik matahari.
Kebangkitanku di hari ketiga adalah nafas
bagi hari baruku yang mulai tunas
melintasi bukit-bukit menghadang angin
yang senantiasa engkau hembuskan
merintangi langkahku yang kini kian ringan
melintas badai lautan.
Kini nyanyi Durna bagai gema memantul dinding
dimana kebimbangan Arjuna telah sirna
terkikis angin tenggara membentang panah diatas kereta
empat kuda bersais Kresna mengawali perang padang Kuru
darah kita bakal tertumpah disana.
Adikku,
kini kita saling berhadapan dengan pedang
mempertaruhkan keyakinan yang kita pegang
ketika hari menjelang petang.
4juni-25agustus 2010
barangkali sebuah keberhasilan
bayang-bayang Yudas senantiasa mengikuti langkahku
haruskah aku menjadi Yesus baru
yang menerima langkah Yudas
dalam perjamuan suci.
Entah berapakali badai menghantam
aku senantiasa memaafkan
ketika engkau memaku tanganku di penyaliban
tangan ini aku ulurkan
menuju bukit dengan beban salib aku terima
sebagai jalan.
Kini aku bangkit menyandang luka
kerna kemanusiaanku juga
dan penyesalan yang engkau dengungkan
adalah nyanyi durna di padang kembang
dan tembang kumbang di halaman
menjelma tanaman yang menghunjam
akar senantiasa menumbuhkan tunas baru
yang bakal melindungiku dari terik matahari.
Kebangkitanku di hari ketiga adalah nafas
bagi hari baruku yang mulai tunas
melintasi bukit-bukit menghadang angin
yang senantiasa engkau hembuskan
merintangi langkahku yang kini kian ringan
melintas badai lautan.
Kini nyanyi Durna bagai gema memantul dinding
dimana kebimbangan Arjuna telah sirna
terkikis angin tenggara membentang panah diatas kereta
empat kuda bersais Kresna mengawali perang padang Kuru
darah kita bakal tertumpah disana.
Adikku,
kini kita saling berhadapan dengan pedang
mempertaruhkan keyakinan yang kita pegang
ketika hari menjelang petang.
4juni-25agustus 2010
A K A R
Gerimis yang turun sisa hujan kemarin
membasahi hari-hariku, dinginnya
menusuk kerinduaku pada bait
bait mimpi yang senaantiasa aku sulam
menjelang turunnya sepi.
Ku koyak sedikit kenangan
pada perjalanan kemarin meniti luka
manisnya masih bersisa
ingin ku hirup dalam-dalam darah ini yang senantiasa
meneteskan kekaguman
pada akar yang menghunjam
saat badai menghantam.
Adikku,
masih tersisakah mimpi silammu
yang senantiasa engkau lantunkan
di jelang tidurmu ?
awal juni dini hari 2010
membasahi hari-hariku, dinginnya
menusuk kerinduaku pada bait
bait mimpi yang senaantiasa aku sulam
menjelang turunnya sepi.
Ku koyak sedikit kenangan
pada perjalanan kemarin meniti luka
manisnya masih bersisa
ingin ku hirup dalam-dalam darah ini yang senantiasa
meneteskan kekaguman
pada akar yang menghunjam
saat badai menghantam.
Adikku,
masih tersisakah mimpi silammu
yang senantiasa engkau lantunkan
di jelang tidurmu ?
awal juni dini hari 2010
Rabu, 19 Mei 2010
NYANYI LUKA
Ku lihat gerimis di matamu
saat kau merenda kenangan
di beranda rumahku.
Matakupun berkabut
menorehkan jarum di sepanjang langkah
kepergianmu.
Jalan-jalanpun terasa asing
ada yang hilang di separo usiaku
barangkali luka ini terlampau manis
tuk dinikmati di usia senja.
Selamat malam adikku,
walau badan penuh luka kita senantiasa
mengelusnya seakan esok
bakal tampil purnama dari nyanyi luka.
Saat anak-anak tertidur dengan mimpi
kitapun asyik merajut sepi.
April 12, 2010
saat kau merenda kenangan
di beranda rumahku.
Matakupun berkabut
menorehkan jarum di sepanjang langkah
kepergianmu.
Jalan-jalanpun terasa asing
ada yang hilang di separo usiaku
barangkali luka ini terlampau manis
tuk dinikmati di usia senja.
Selamat malam adikku,
walau badan penuh luka kita senantiasa
mengelusnya seakan esok
bakal tampil purnama dari nyanyi luka.
Saat anak-anak tertidur dengan mimpi
kitapun asyik merajut sepi.
April 12, 2010
PERBATASAN
Diperbatasan itu, maut menantiku
dengan senyumnya yang ramah
menggelayut ujung-ujung rambutku
yang memutih ditelan waktu.
Masih sempat ku cumbu sepi
di sela lanhkahku yang kerap terhenti
mestinya ku letakkan semua
disini
benih tanaman janganlah jadi beban
kerna garis edar pasti terlewati
betapapun lamban waktu menyemuti.
Pada akhirnya aku harus kembali
menyusuri langkah
sendiri.
April 30 jelang dini 2010
dengan senyumnya yang ramah
menggelayut ujung-ujung rambutku
yang memutih ditelan waktu.
Masih sempat ku cumbu sepi
di sela lanhkahku yang kerap terhenti
mestinya ku letakkan semua
disini
benih tanaman janganlah jadi beban
kerna garis edar pasti terlewati
betapapun lamban waktu menyemuti.
Pada akhirnya aku harus kembali
menyusuri langkah
sendiri.
April 30 jelang dini 2010
Kamis, 25 Maret 2010
DATANGLAH WAHAI
Kegamanganku pada mimpi malam
sepi
mentautkan tabir kerinduan yang lama
ku tinggalkan
dalam pertemuan resia bersama
dibawah bentangan kabut cahya kasihmu
lirih memanggil
sedemikian lirih
hingga terdengar galau gelisahku.
Wahai kenbalilah
kidung yang senantiasa ku dendangkan
saat meniti sepi bersamamu.
Aku ingin pulang
menyusuri keterasingan bau tubuhmu
menggemerlap mimpi
tanpa beban memenuhi dada
tanpa kegelisahan menghuni kepala
dalam kekosongan Wung
menemu Nur pijarMu.
Datanglah wahai,
kesunyian abadi
menghuni ruangku
menjelang mati.
memasuki sepi 27 Maret 2010
sepi
mentautkan tabir kerinduan yang lama
ku tinggalkan
dalam pertemuan resia bersama
dibawah bentangan kabut cahya kasihmu
lirih memanggil
sedemikian lirih
hingga terdengar galau gelisahku.
Wahai kenbalilah
kidung yang senantiasa ku dendangkan
saat meniti sepi bersamamu.
Aku ingin pulang
menyusuri keterasingan bau tubuhmu
menggemerlap mimpi
tanpa beban memenuhi dada
tanpa kegelisahan menghuni kepala
dalam kekosongan Wung
menemu Nur pijarMu.
Datanglah wahai,
kesunyian abadi
menghuni ruangku
menjelang mati.
memasuki sepi 27 Maret 2010
LURUH SUJUDKU
Aku semakin jauh dariMu
seiring detak waktu
memburuMu
tak ada getar dalam debar, sungguh
aku tak sabar
menelusuri lorong waktu tak berpintu
luruh sujudku.
Dinding ini menghambat langkah
serangkaian logika dan dogma
tak jua menyentuhMu
aku menggeliat
melepas semua jubah di hadapanMu
kerna ku ingin menemu yang tlah hilang
dalam ruangku, yha Allah
berat kaki ini melangkah
dengan beban jarak ada di pundak.
26 maret 2010
seiring detak waktu
memburuMu
tak ada getar dalam debar, sungguh
aku tak sabar
menelusuri lorong waktu tak berpintu
luruh sujudku.
Dinding ini menghambat langkah
serangkaian logika dan dogma
tak jua menyentuhMu
aku menggeliat
melepas semua jubah di hadapanMu
kerna ku ingin menemu yang tlah hilang
dalam ruangku, yha Allah
berat kaki ini melangkah
dengan beban jarak ada di pundak.
26 maret 2010
Selasa, 23 Maret 2010
LUKISAN SENJA
Ada sedikit kegelisahan pada bayang
bayang menusuk dinding
ruangku
penuh coretan membentuk sketsa
wajahmu
senyum tipis
mata berembun ingin ku selesaikan
dalam lukisan
torehan warna atau luka yg bakal menjelma
dalam pigura.
Kita menemu jalan simpang dengan menyandang beban
haruskah kita kembali kemula membawa mimpi remaja ?
Tidak adikku,
sebaiknya kita menekuni lorong waktu
yang mengantarkan kita pada arah yang berbeda
cukupkanlah cerita itu sebagai pemanis
mimpi kita
saat hari merambati senja.
tengah malam jelang 23, maret 2010
bayang menusuk dinding
ruangku
penuh coretan membentuk sketsa
wajahmu
senyum tipis
mata berembun ingin ku selesaikan
dalam lukisan
torehan warna atau luka yg bakal menjelma
dalam pigura.
Kita menemu jalan simpang dengan menyandang beban
haruskah kita kembali kemula membawa mimpi remaja ?
Tidak adikku,
sebaiknya kita menekuni lorong waktu
yang mengantarkan kita pada arah yang berbeda
cukupkanlah cerita itu sebagai pemanis
mimpi kita
saat hari merambati senja.
tengah malam jelang 23, maret 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
-
PRAKATA Pada awal-mulanya, artinya ketika manusia masih utuh, belum terpecah-pecah dalam watak dan karyanya, maka fungsi seorang agamawan,...
-
MENUJU DERMAGA Mempertemukan jemari kita saat sepi ketika bayang-bayang luruh membentuk rupa suaramu telah sampai sebelum kata lepas tan...