PERJAMUAN
I
Anyir tubuh kita, bau luka
mulut-mulut penuh bisa mendendangkan
ringkik kuda.
Marilah
kita berbasuh anggur sejenak
mencucikan luka lama sebelum kita
berangkat ke pesta.
II
Inilah darahku, darah cinta kasih
sesama
dunia
yang mengguyurkan ketulusan
yang mencucikan dendam.
Minumlah,
sebelum usai pesta seteguk luka akan
segera musna.
1982
Inilah wujud kegagalan yang aku raih, kegagalan yang senantiasa akan aku ikuti dengan kegagalan berikutnya
Rabu, 14 Oktober 2009
PENGEMBARAAN
I
Seperti selalu bergetar
seperti pernah terdengar
gumeter sworo tembang
tengah wengi
kawulo manembah, kawulo ngabekti
kawulo manunggal
Ing Gusti
.
II
Kerna aku hamba aku meminta
kerna tak pasti aku mencari
nglemboro golek margo
margo kang bener lan pinercoyo
pinercoyo dening kawulo
kawulo kang gumeter salebeting suksmo
sejati
.
III
Mantera-mantera
nglangut terdengar di kejauhan
menggemakan kepurbaan hidup
dan kasih yang jauh
Negeri Gaib
senyap kata
lengang suara
(heneng-hening tanpo suoro)
Ruh-ruh gemetar melihat
bayang-bayang terbaring menghadap
keheningan
.
IV
Pernah,
aku berdogma
aku berdusta
aku berdalil
aku berdalih
aku bertaubat
aku berbuat
aku bersetia
mengkhianatinya
aku mencuci
terkotori
seperti yang pernah terucap adalah
kegelisahan
kecemasan
ketakutan
diri
dalam
saputan warna
kusam dunia.
Ingin dalam pasrahku Ingin dalam salahku
Sumarah Seleh
Ingin dalam diamku
Manembah
.
V
Hening
heneng
tanpo suoro
heneng
hening
tanpo rupo
heneng
hening
tanpo roso
heneng
hening
.
tan keno
kinoyo ngopo
.
1982
PENGAKUAN
Atas nama Bapa dan Putra dan Roh Kudus
Atas nama Sang Aku
Langit dan bumi adalah Aku
surga dan neraka adalah Aku
kehidupan dan kematian adalah Aku
kesementaraan dan kelanggengan adalah Aku
segala sumber segala muara, segala cipta
segala musna, segala kebenaran segala
kesadaran segala tanya segala jawab segala
ada dan tiada
( segala jarak tak terpisahkan )
sejuta wajah sejuta maaf sejuta kasih
sejuta warna sejuta nikmat sejuta makna
kebijaksanaan
( karma dan pahala sama saja )
: kesemestaan yang kuasa
Tuhan dalam sosok : Aku.
1982
JEJAK
I
Terkadang, persimpangan jalan membuat kita
asyik
menekuni jejak.
II
Kelegaanpun menyelimuti jalan
jalan yang kita lewati adalah kata
kata sakti
tak pernah terucapkan.
III
Kata sakti tak terdengar bila di ucap
ia gemetar tersentuh tindak
bijaksana.
1982
TEMBANG SAWIJI
Sukmanen sadinten-dinten
jatining pandulu kanti sayekti
ayuning kayun handarbeki
lamun lugu ngangkah bekti
datan sumelang, ingsun
bakal panduk ing Ndon.
Liyap liyep lumiyeb
kambah saniskareng laku
lumuyut manganyut-anyut
praptaning uwis
sepi sepa samun sinawung
ilapating wahyu
tumekeng kabukaning kijab
'Ullah Agaib.
1982
DENPASAR, SEBUAH UPACARA
I
Ini cuma persinggahan sesaat
akan kita catat lalu lewatkan
dalam gumam.
II
Kita bernafas lega sejenak, setelah
setapak kita melangkah, mencatat waktu
menghabiskan usia yang makin susut
dari keyakinan.
III
Kita bukannya semakin dekat pada tujuan
setelah melewati usia renta, kita
semakin tak tahu arah
kaki menapak.
1982
MEDITASI
I
Ada kurasa getar, seakan
membebaskanku dari beban, jarak
membuka jagad alit menelanjangi
kehidupan.
II
Ingin ku rengkuh jarak, setelah pendakian
pada pendakian yang kesekian aku tak mampu
menyibak pintu
jarak.
III
Ada batas tak tertangkap yang kuasa
menyimpan beribu tanya beribu jawab
lalu membebaskannya ke batas
tak tertangkap.
1982
I
Ada kurasa getar, seakan
membebaskanku dari beban, jarak
membuka jagad alit menelanjangi
kehidupan.
II
Ingin ku rengkuh jarak, setelah pendakian
pada pendakian yang kesekian aku tak mampu
menyibak pintu
jarak.
III
Ada batas tak tertangkap yang kuasa
menyimpan beribu tanya beribu jawab
lalu membebaskannya ke batas
tak tertangkap.
1982
SIAPA BERDIRI DI BALIK GEMA
SIAPA MENYEBAR JEJAK
SIAPA MEMBAGI ROTI
SIAPA MENYEBAR JEJAK
SIAPA MEMBAGI ROTI
Bening suara tanpa rupa, selalu bertanya
dinding bertanya
gunung
laut
dan langit bertanya
Siapa berdiri di balik gema
Siapa menyebar jejak
Siapa membagi roti di balik panji ?
Merpatikah Engkau kan ku cium
tapak
kan ku jilat
darah
agar terbuka
resia
Mu
.
1981
PRELUDA
Tatkala sebuah kumpulan sajak telah dinyatakan "rampung" maka preluda terhadapnya menjadi lebih layak dianggap sebagai "angin lalu" ketimbang sebagai "penunjuk jalan"
Sebuah kumpulan sajak paling tidak akan berbicara tentang penyairnya, lengkap dengan latar belakang kehidupan dan eksistensi kepenyairannya, dan tentunya juga akan mencuatkan sekian macam problema kehidupan kepada pembacanya.
Atau paling tidak , sebagai pembaca sajak yang baik kita mengharapkan dapat memperoleh semacam "wisdom" seusai menikmatinya. Itu wajar dan "sah" sekali.
Demikianlah, PENGEMBARAAN Cho Chro Tri Laksono tentunya telah "rampung", sebab telah hadir di tengah-tengah kita.
Darimula, tentunya ia berusaha mengibarkan bendera-bendera problema hidup dan kehidupan, tentang ia dan dirinya, tentang ia dan alamnya, tentang ia dan sesamanya, dan tentang ia dan Ianya.
Tapi dapatkah ia membukakan daun pintu sebuah kamar yang penuh rahasia, menuntun kita masuk dalam situasi yang meditatif, samadi, dst. dst. dalam dunia yang kita kenal sebagai dunia kata ? Marilah kita nikmati bersama, kita kunyah bersama PENGEMBARAAN ini.
Kalaulah kita akhirnya mengatakan ia belum berhasil membangun Dunia itu, barangkali itulah sukses yang tertunda. Akan tetapi jika kita bilang ia telah berhasil, ia barulah masuk dalam terminal pertama. Dan kita layak pula beresan jangan keburu bangga. Sekian ratus terminal masih menunggu dilampaui. Dan Sang Waktu yang akan senantiasa menguntit dan mengujinya, dan mungkin atau bahkan menjegalnya.
Begitu ?
Yogyakarta, Awal September 1982
Salam
Suminto. A Sayuti
SONET
(Gadis berambut panjang)Beri aku sedikit nyanyi pertempuran
kerna aku angkuh ku guncang bebintang
(sementara beberapa jatuh di pangkuan)
Gelisah, gelisah, gemuruh dalam debar
Malam turun menyambut pekabaran; katakanlah !
Wahai: "Gembala kehilangan dombanya"
Rambut panjang menyapu kerinduan
malam-malam anak gembala terjaga
lupa meniup sulingnya
(sementara bibirmu melepas senyuman)
Datanglah Wahai: " Siapa ?"
Bayang-bayang mengetuk keheningan
Malam makin memberat di pintu
renda putih tergetar dibelai angin
seperti ku kenal wajah di luar (?)
Wahai, gaun pengantin menyapu tanah: masuklah
tlah kusediakan roti sakramen suci anggur ekaristi
(bayang-bayang tertegun-tegun menyeret langkah)
Ach ! jangan pergi
rambut hitam menggerai
sepi.
1982
Langganan:
Postingan (Atom)
-
PRAKATA Pada awal-mulanya, artinya ketika manusia masih utuh, belum terpecah-pecah dalam watak dan karyanya, maka fungsi seorang agamawan,...
-
MENUJU DERMAGA Mempertemukan jemari kita saat sepi ketika bayang-bayang luruh membentuk rupa suaramu telah sampai sebelum kata lepas tan...