Senin, 19 Oktober 2009

H U J A N

Angin sejuk menerpa wajah, aku biarkan semuanya basah
hati dan kenanganku. gemuruh hujan di luar menghantam
dadaku, sesosok bayang melintas bias
pelangi mempermainkan mataku yang
kian waktu kian kabur mendekati kubur
begitu samarnya hingga nampak jelas diantara cadar
menepis-nepiskan masa lalu yang tiba-tiba kembali membayang
surga yang hilang ?,
bukan, bukan, surga yang bakal datang melabuhkan perahu
yang sarat hasrat hingga kompas kehilangan kiblat.
bumi terus berputar dalam diam ,merambati waktu
terasa sia-sia hidup tanpa berbuat sesuatu.

desember 6, 1985

Kamis, 15 Oktober 2009

KIDUNG WAYAH WENGI antologi puisi II


NYANYIAN OMBAK

Masih ku dengar desahnya yang membara
laut kidul menggelora buih
memerak di bibir-bibir pantai menyuruki sepi
yang hampir mengatupkan matanya
O, cinta
dahaga tinggal selembar benang yang merajut kenang
pada masa-masa yang telah silam ditelan waktu
debur ombak laut kidul mendendang rindu.

1984
KETIKA KU MASUKI BERANDA RUMAHMU
( ngadisuryan IV/135 )

Maka ku labuhkan kapal kenanganku
setelah sekian lama hidup mendamba
biduk menghilirkan kata
menghilirkan nafasku memasuki rusukmu.

Lantas ku wartakan kepadamu sebuah cerita
tentang laut yang tertidur di kakimu
nafasnya gelisah, gagal istirah
kemesraan yang luput dari jamah.

( lagumu yang purba mengarungi samudra
    hingga tanganku tak kuasa meraihmu
    melabuhkan kata dalam satu dermaga )

Maka ketika pagi mengurai sinarnya
ku layarkan perahu isyarat ke jantungmu
lewat angin yang bertiup disela rambutmu
kutuliskan rindu. Dengarkanlah.

1984
TLAH TERGETAR TIRAI

Ku tangkap surga di matamu
pada bulan ke tujuh langkah
terhenti membelai
     dingin angin gunung
         panas angin gurun
               keheningan malam
kelaparan dalam penantian bergumul
dalam kabut.

Datanglah wahai,
yang pernah hinggap lalu lenyap
dalam gelisahku
( embun menetes menyentuh tirai
                 gemetar
        Ruh lama tersimpan )
bayang-bayang menggigil di altar
kudus kata
jawaban resia lamat-lamat terdengar
di kakikaki telanjang.

Ku tangkap surga di matamu
pada bulan ke tujuh langkah
terhenti membelai.

1985
DI SUDUT MATAMU ADA EMBUN

Di sudut matamu ada embun menusuk kata
berkabar tentang rindu yang tertahan
oleh gelisah waktu
di ujung rambutmu.

Ternyata aku tak cukup sabar menahan sepi
merentang busur di pintu bidik jantungmu
gemetar menyembunyikan detaknya.

Pada akhirnya kutuliskan angin di daunan
kerna kata tanggal dari tangkainya gelap
rimba tak mampu mengurai makna
( engkau senantiasa terjaga dari nafsu
  dan prasangka ).

1985
KIDUNG SAJRONING WENGI

I

Wahai kekasih, tanggalkan jejakmu
dalam kesuraman senja kuletakkan lilin
di atas meja antik. Cantik
serangkaian melati disisi bayang-bayang
tirai tersingkap, di luar
gelap.
: Tak ada tanda-tanda kau akan hadir
  menjamu luka

Wahai kekasih, tengoklah kedalam
sepi
menyambut malam.
: gerimis mulai turun di pekarangan.


II
Kemarin teras dan beranda sepi
kau tawarkan mimpi lewat jendela
terbuka
    (  suara-suara di kegelapan
       cakrawala kehidupan di kegelapan
       angin dingin di kegelapan
       lewat menyapa )
Duka, masa remaja
tawarkan padaku cerita
buah pohon di pekarangan
    : Ku petik satu buah pohonmu ku tawarkan
      buah pohonku kepadamu lalu
      dengan sembunyi-sembunyi kita
      mencicipinya.
    ( suara-suara ombak di kejauhan
      suara angin mampir di wuwungan
      suara malam membawa keheningan
      membisik
                  membelai
                                lalu meredakannya )
Kesegaranpun menyemaraki pertemuan, kita
ingin mengulangnya.

1984
PRAMBANAN
( dalam kusam peradaban )

Pada batu
tuding angkasa
matahari merah di barat cakrawala
dekat penghabisan
menancapkan makna
pada dinding
pada stupa
keseharian adalah upacara-upacara.

Tlah dekat keabadian
pohon hayat
dunia bawah
atas
tersatukan.

Paramatma
tinggalkan usia.

1984
BOROBUDUR
( purna pugar sebuah peninggalan )

Barangkali engkau hanya membuat isyarat
lantas kau tanam melati di perbukitan
kelopaknya anggun, bertahta lentera
( menciptakan nirwana di putiknya
  menyedu madu di pusat kalbu )
lantas hiduppun menjelma cerita, dinding stupa
         - Sang Budha berpradaksina  -
( Lumbini taman kembang, mengenal arti
  keramatMu tak pernah asat ).

Barangkali engkau mulai mengurai isyarat
lantas kau masuki trisula delapan kiblat
( nyala dimar di kegelapan adalah nyalaMu
  nyala yang senantiasa tumbuh dalam pasrah )
O, jagad
ternyata hidup sekedar kembali ke hakikat
mengembalikan dunia ke alam Rahsa. Dana warih
                Sang Budha berpradaksina   
           - jubahnya bunga tujuh samudra -
tumbuh teratai di lautmu, tumbuh urna di keningmu
telingamu, O
betapa dalam arti kurban
( di matamu mengerdip bintang, di mulutmu bau kembang )
: di puncak doa purba memasuki sumber suara.

1984
MASUKLAH, DINGIN DI LUAR

Lihatlah,
nadiku mengerdip perlahan menyapamu
sejuta malam sejuta siang, engkau
senantiasa muncul melintas waktu
kesunyianku.

Sapalah,
pada injakan pertama bumiku bergetar
seperti melawat seorang sahabat yang hilang
dalam perjalanan panjang menuju
peristirahatan.

Masuklah,
tlah kubuka pintu sebelum kau sempat mengetuk
kepastian.

Minumlah,
ini darah perjanjian yang lama
hasil tanaman kita
segar
tersentuh sapa.

Makanlah,
ini roti sisa perjamuan kemarin
kamar pengakuan kudus
oleh kata.

Masuklah,
dingin di luara
: Pagi mengusap wajahnya.

1985
BARANGKALI KITA TERLAMPAU PAGI
MENABIKKAN SALAM


Oleh keterasingan kita dipisahkan, dua bukit
mengisyaratkan suara asing lewat angin kegelapan
hati kita membara oleh gelora
ataukah badai yang membisik ketika senja
melarutkan nafasnya.
Ach,
betapa samar makna yang tersalib di jemari
tirai angan berkabut awan.

Ataukah kita terlampau pagi menabikkan salam
hingga yang terdengar oleh kita adalah sangkakala
mengisyaratkan peperangan dalam perjalanan
atau barangkali kita keliru mengurai makna
hingga yang terjelma di hati kita adalah prasangka
mewarnai tiap perjumpaan
( kita menyangka gerimis yang bakal membasahi hari
  ketika pagi meneteskan embun di dedaunan )

Atau sebaiknya kita tak saling berkirim isyarat
sebelum kata berubah jadi sabda menjerat kita
dalam sangsi tak tersapa
atau sebaiknya kita saling menolak keyakinan yang berucap
lantas kita saling menjaga kegelisahan
membebaskan warna dari fungsi dan makna.

Barangkali kita terlampau pagi menabikkan salam
hingga hari kita terlampau cepat menjadi malam.




1984

PRINT AD

Add caption ...