Ketika ku labuhkan jemari di pintuMu
engkau menggeliat
bagai perawan desa engkau berlari meninggalkan
kerling tajam dan senyuman
mengigit darah beliaku yang sedang menunggu
puncak gelora nafasmu.
Aku berdiri terpaku dengan berjuta tanya
menterjemahkan kepergianMu adalah jawaban
aku tahu pasti, tapi aku merasa sangsi
wahai adikku,
jangan biarkan kesendirianku dengan ombak lautan
angin yang engkau kirimkan ke wajahku adalah kehausan
deru nafasmu adalah ketenangan yang engkau endapkan
dalam bilik sepi
yang Ruri.
Adikku,
ketidak-tahuanku adalah sebuah kepastian yang harus
segera ku bulatkan
dalam langkah pasti dan tak akan pernah berhenti
di pangkuanMU, yha Allah
ku cumbu segala hasrat kerinduanku.
lewat satu suro dua ribu sembilan, dini hari
Inilah wujud kegagalan yang aku raih, kegagalan yang senantiasa akan aku ikuti dengan kegagalan berikutnya
Kamis, 07 Januari 2010
Selasa, 05 Januari 2010
HARI PENGHABISAN
kegelapan sepanjang hari membuatku sesak
bilur-bilur pelangi nanar
kelopak mata
semalaman lembab mengalirkan keluh
sesal berkepanjangan bagai awan
mengapung
terbang kemana angin bertiup
di daunan runtuh berserak
perlukah sesal kalau senantiasa kembali ke awal ?
Ku tengok ke belakang jalanan
tajam berkelok tebing
aku tlah hampir sampai di ujung pendakian
akankah ku berhenti dengan bekal sesal
memberati langkah kaki ?
Andai bisa ku kosongkan rongga ini
aku akan berlari dengan bungah
menyambut hari penghabisan dengan mata terpejam
dan senyum tersungging di pelukan
tanganMU
tergantung di awang
Wung
.
Jelang Dini Januari 4.
TAHUN BARU
Ketika bunyi mercon memecah keheningan
ketika kembang api menghias hitam malam
ku termenung menatap usia tanggal
satu
hilang terlewat sudah usiaku didera waktu
di batas cakrawala yang kian dekat penghabisan
tak ku tahu apa makna melakukan perjalanan
masa silam bagai kejapan mata ketika kantuk tiba
terbangun saat mimpi terlepas dari tidur yang jaga
aku tak kuasa mengulang
dari mula
segalanya mengalir begitu saja
ke muara.
catatan tahun baru 2010
ketika kembang api menghias hitam malam
ku termenung menatap usia tanggal
satu
hilang terlewat sudah usiaku didera waktu
di batas cakrawala yang kian dekat penghabisan
tak ku tahu apa makna melakukan perjalanan
masa silam bagai kejapan mata ketika kantuk tiba
terbangun saat mimpi terlepas dari tidur yang jaga
aku tak kuasa mengulang
dari mula
segalanya mengalir begitu saja
ke muara.
catatan tahun baru 2010
CATATAN AKHIR, AWAL TAHUN
Dengan penuh debar ku masuki beranda rumahmu
seperti pernah ku kenal namun serasa asing
pertemuan ini akan menjadi awal
akhir sebuah penantian
perjumpaan yang menjadi akhir
awal sebuah impian
keraguan yang dalam menggayut kakiku
gemetar tuk meneruskan langkah
sebuah kepastian harus ku dapatkan.
Ku mantapkan langkah tuk mengakhiri
lantas mengawalinya dengan sesuatu
yang tak ku tahu
jawabnya.
jelang tahun baru 2010
seperti pernah ku kenal namun serasa asing
pertemuan ini akan menjadi awal
akhir sebuah penantian
perjumpaan yang menjadi akhir
awal sebuah impian
keraguan yang dalam menggayut kakiku
gemetar tuk meneruskan langkah
sebuah kepastian harus ku dapatkan.
Ku mantapkan langkah tuk mengakhiri
lantas mengawalinya dengan sesuatu
yang tak ku tahu
jawabnya.
jelang tahun baru 2010
PENDOPO SEPI, SORE HARI
Senja mulai turun menjemput kegelapan,
aku beranjak ke halaman pendopo yang sepi
barangkali aku harus berdiri disini agara terlihat
dan ada yang mampir walau sekedar menyapa atau
sedikit ngobrol, berbagi cerita mengisi kekosongan hari
haruskan ku panggil dan bangunkan penghuni pendopo ini
agar mereka tidak terbuai dengan mimpi ?
Pendopo ini telah terkurung kabut
disisi-sisi gunungan tlah tumbuh lumut
ku rangkai melati di kanan-kiri persembahanku
menjelang gelap menyelimuti sekelilingku.
Pelan ku langkahkan kaki sambil melantunkan puisi
bagi hari-hariku kosong berselimut sepi
tanganku gemetar meraba dindingMu
bagai nyanyian gaib yang menggema menyelusuri lorong waktu
dan tatapankupun luruh tak kuasa memandangMu
di lantai itu, segelanya tergelar begitu saja tanpa ku mampu
tuk menghapusnya,
betapa wajahku terpampang dengan coreng-moreng
jelaga tak mampu menyembunyikan lututku gemetar
hingga ku bersimpuh, bersujud mohon ampunan
yha Allah,
aku berserah
memanjat dindingMu
dengan penuh pasrah
ku tanggalkan
segala yang ada padaku
telanjang
mencumbuMu.
Aku menggigil dalam hening sepiku.
desember 24, 2009
aku beranjak ke halaman pendopo yang sepi
barangkali aku harus berdiri disini agara terlihat
dan ada yang mampir walau sekedar menyapa atau
sedikit ngobrol, berbagi cerita mengisi kekosongan hari
haruskan ku panggil dan bangunkan penghuni pendopo ini
agar mereka tidak terbuai dengan mimpi ?
Pendopo ini telah terkurung kabut
disisi-sisi gunungan tlah tumbuh lumut
ku rangkai melati di kanan-kiri persembahanku
menjelang gelap menyelimuti sekelilingku.
Pelan ku langkahkan kaki sambil melantunkan puisi
bagi hari-hariku kosong berselimut sepi
tanganku gemetar meraba dindingMu
bagai nyanyian gaib yang menggema menyelusuri lorong waktu
dan tatapankupun luruh tak kuasa memandangMu
di lantai itu, segelanya tergelar begitu saja tanpa ku mampu
tuk menghapusnya,
betapa wajahku terpampang dengan coreng-moreng
jelaga tak mampu menyembunyikan lututku gemetar
hingga ku bersimpuh, bersujud mohon ampunan
yha Allah,
aku berserah
memanjat dindingMu
dengan penuh pasrah
ku tanggalkan
segala yang ada padaku
telanjang
mencumbuMu.
Aku menggigil dalam hening sepiku.
desember 24, 2009
MALAM 1 SURO (monolog sepi)
Ketika malam tlah sampai ke tengah dan kegelapan
mencapai puncak
keheningan
tanpa swara tanpa sapa
kehenengan
tanpa rasa tanpa rupa
segalanya tiada tapi ada
tak berupa tapi nyata
tak berkata tapi gaungnya
memenuhi segala penjuru angkasa
Yha Allah... aku berserah
bersimpuh di kaki-kakiMu dengan segala kekurangan
aku malu menatapmu dengan pakaian compang-camping
penuh debu
tapi ku ingin memelukmu dan terus
memelukmu
dengan segala kerinduan dan kemesraan yang ada padaku
dengan ketulusanku yha Allah...
tanpa lipstik dan maskara kupersembahkan kepadaMu
apa adanya.
malam satu suro dua ribu sembilan
mencapai puncak
keheningan
tanpa swara tanpa sapa
kehenengan
tanpa rasa tanpa rupa
segalanya tiada tapi ada
tak berupa tapi nyata
tak berkata tapi gaungnya
memenuhi segala penjuru angkasa
Yha Allah... aku berserah
bersimpuh di kaki-kakiMu dengan segala kekurangan
aku malu menatapmu dengan pakaian compang-camping
penuh debu
tapi ku ingin memelukmu dan terus
memelukmu
dengan segala kerinduan dan kemesraan yang ada padaku
dengan ketulusanku yha Allah...
tanpa lipstik dan maskara kupersembahkan kepadaMu
apa adanya.
malam satu suro dua ribu sembilan
Senin, 04 Januari 2010
B A L O N
Seorang bocah menangis
gagal menangkap matahari
yang dikiranya balon mainan
pemberian ibu dalam mimpi
si anakpun terus menanti
barangkali balon bakal kembali
di garis edar bumi.
september awal 1987
gagal menangkap matahari
yang dikiranya balon mainan
pemberian ibu dalam mimpi
si anakpun terus menanti
barangkali balon bakal kembali
di garis edar bumi.
september awal 1987
E M B U N
Antara sedusedan dan kenangan
aku bentuk impian
dari malam ke lain malam meneteskan
kegaiban
ketika pagi ku buka jendela
masih ku lihat tetes embun terakhir
jatuh membasahi rumputan
disitu aku mengaca
bias mentari kian mempercantik
wajahnya, duh...
agustus 25, 1987
aku bentuk impian
dari malam ke lain malam meneteskan
kegaiban
ketika pagi ku buka jendela
masih ku lihat tetes embun terakhir
jatuh membasahi rumputan
disitu aku mengaca
bias mentari kian mempercantik
wajahnya, duh...
agustus 25, 1987
BARANGKALI
Ada yang menggeletar dalam ruangku
entah siapa
bayang-bayang memantul di kaca jendela
sepi semata
barangkali degup jantung yang mengetuk dinding kamar
atau barangkali sebuah derap langkah yang tak pernah
beringsut dari tempatnya, hingga gema yang menyembunyikan
suara dari sumbernya.
Ada niatku untuk menjenguk siapa yang mengantarkan
debar setiap kali ku masuki gerbang sepiku senantiasa
mengantarku ke alam sepi sunya ruri.
Barangkali itu suara langkahmu
dengan malu-malu menguakkan tirai pada malam-malam
panjang berkabut,
ingin ku berdiang bersama melewati waktu
dengan dingin dinding yang saling terpisah.
Barangkali itu suaraku
yang begitu kental dengan mimpi hingga tak ku kenal wajah
atau barangkali...
Ya.
agustus 15, 1987
entah siapa
bayang-bayang memantul di kaca jendela
sepi semata
barangkali degup jantung yang mengetuk dinding kamar
atau barangkali sebuah derap langkah yang tak pernah
beringsut dari tempatnya, hingga gema yang menyembunyikan
suara dari sumbernya.
Ada niatku untuk menjenguk siapa yang mengantarkan
debar setiap kali ku masuki gerbang sepiku senantiasa
mengantarku ke alam sepi sunya ruri.
Barangkali itu suara langkahmu
dengan malu-malu menguakkan tirai pada malam-malam
panjang berkabut,
ingin ku berdiang bersama melewati waktu
dengan dingin dinding yang saling terpisah.
Barangkali itu suaraku
yang begitu kental dengan mimpi hingga tak ku kenal wajah
atau barangkali...
Ya.
agustus 15, 1987
J E J A K
Kita sempat bimbang sejenak menatap kuda
kuda berlari di atas gelombang
dengan kaki berjingkat menginjak pasir
mengambang engkau bertanya : " Kanda,
haruskah kita menyisir angin selamanya
hingga senja mengatupkan nafasnya ?
Atau kita biarkan daun palma mengering
tanpa kita sempat merabukannya ?
Sementara kita melangkah kian jauh
dengan rambut basah, kita terus dibayangi
sangsi untuk menghapus setiap jejak.
Atau sebaiknya kita akhiri perjalanan lantas
berpisah arah dengan beban jarak dalam genggaman ?".
Pertanyaan itu terus mengiang sementara kami
masih terus berjalanan berdampingan tanpa
tegur tanpa berbagis sapa
( jejak itu masih tampak olehku
kian lama kian menjauh tanpa aku
merasa kehilangan)
tahun keenam jelang tujuh, tahun perjalananku - juni tengah, 1987
kuda berlari di atas gelombang
dengan kaki berjingkat menginjak pasir
mengambang engkau bertanya : " Kanda,
haruskah kita menyisir angin selamanya
hingga senja mengatupkan nafasnya ?
Atau kita biarkan daun palma mengering
tanpa kita sempat merabukannya ?
Sementara kita melangkah kian jauh
dengan rambut basah, kita terus dibayangi
sangsi untuk menghapus setiap jejak.
Atau sebaiknya kita akhiri perjalanan lantas
berpisah arah dengan beban jarak dalam genggaman ?".
Pertanyaan itu terus mengiang sementara kami
masih terus berjalanan berdampingan tanpa
tegur tanpa berbagis sapa
( jejak itu masih tampak olehku
kian lama kian menjauh tanpa aku
merasa kehilangan)
tahun keenam jelang tujuh, tahun perjalananku - juni tengah, 1987
A I R
I.
Aku hanyalah seorang pejalan melintas padang
kehausan
seandainya sendang itu fatamorgana
akan ku hirup bayangan yang memantul
dalam keburaman kaca-kaca
( dan jiwaku bersemayan di dalamnya ).
II.
Tak ada air dalam sendang, aku kehausan
sekian lama ngembara menyebrangi padang bayang
air dan fatamorgana sama wujudnya hingga
tiap langkah bagai tetesan embun mengayuh harap
nafaspun luruh jarak tak tersentuh
butir keringat jadi obat bagi lelah dahaga
( sementara mata air dalam dada
memenuhi rongga kepalaku ).
III.
Kerinduan adalah cakrawala
dimana batasnya fatamorgana
kehausan padang pada mata
air di puncak dahaga
" nDog pengamun-amun"
Juni 87 - Jan 2010
Aku hanyalah seorang pejalan melintas padang
kehausan
seandainya sendang itu fatamorgana
akan ku hirup bayangan yang memantul
dalam keburaman kaca-kaca
( dan jiwaku bersemayan di dalamnya ).
II.
Tak ada air dalam sendang, aku kehausan
sekian lama ngembara menyebrangi padang bayang
air dan fatamorgana sama wujudnya hingga
tiap langkah bagai tetesan embun mengayuh harap
nafaspun luruh jarak tak tersentuh
butir keringat jadi obat bagi lelah dahaga
( sementara mata air dalam dada
memenuhi rongga kepalaku ).
III.
Kerinduan adalah cakrawala
dimana batasnya fatamorgana
kehausan padang pada mata
air di puncak dahaga
" nDog pengamun-amun"
Juni 87 - Jan 2010
Langganan:
Postingan (Atom)
-
PRAKATA Pada awal-mulanya, artinya ketika manusia masih utuh, belum terpecah-pecah dalam watak dan karyanya, maka fungsi seorang agamawan,...
-
: kepada sahabatku keprihatinan ini saya buat Ada tirai membagi jarak bagai kabut yang mengenda...