Senin, 01 Maret 2010

PASIR TEPIAN

Matahari yang engkau tanam di jemari
mengalirkan kerinduanku pada pasir
pantai diamku bergelora
menggapai-gapaikan tangan ke angkasa
meraih awan di cakrawala menyisakan buih
di tepian.

Ku kais-kaiskan kaki
barangkali ada sepotong awan tertinggal
di ujung buih yang terpantul, berkejaran
menghiasi sore-soreku di pasir
tepian.

Adikku,
biarkanlah yang masih bersisa mengisi celah
hari kita dalam kediaman langit
yang senantiasa biru
dalam tatap mata senjaku.

Sabtu, 20 Februari 2010

SEDAP MALAM


Sedap malam yang biasa aku kirim di ulang tahunmu
kini ku tanam di pekarangan hingga aromanya
merasuk mimpi
kubiarkan ia tumbuh berbunga sepi
berakar matahari
menghunjam hingga dasar bumi.

Dan malam ini ku kirim setangkai
saat usia kita hampir sampai
 
dinihari 19 februari 2010

Minggu, 17 Januari 2010

ANAK PANAH

Tak perlu takut dalam menghadapi hidup ini,
akan segala kecemasan dan ketakutan menghantui
kerna kecemasan adalah budi akal
pikir dan pertimbangan
membuahkan kebimbangan
kerna ketakutan memberati langkah
kerna ketakutan membelokkan arah
bagi kaki yang akan melangkah
maka tanggalkanlah
teruslah berjalan dengan satu arah bidikan
segala aral akan terselesaikan
kerna langkah kita adalah atas kehendakNya.
maka berserahlah
jalan kita akan ada dalam bimbingaNya.

17 januari dinihari 2010

RASA PANGRASA

Sugih iku dudu rojo brono
dudu bondo, dudu turonggo
Sugih iku cukup
ing samubarang
lan sugih iku ora melik
       yen isih melik iku isih kurang
              yen isih kurang iku  mlarat
                     yen mlarat banjur kere
anjejaluk ngiwa nengen ora ono cukupe
lali karo sing maringi
sugih mlarat anane neng ati
                       neng budi
               neng rasa
sajroning rasa
rumongso
ra ana sing luwih kajawi
kang Kuwasa.

catatan dini hari 17 januari 2010

Rabu, 13 Januari 2010

CATATAN BUAT SEORANG SAHABAT

Mengapa harus menangis mengantar kepergian,
kerna tangis menghanyutkan kepedihan
menjadikan beban bagi langkah menuju haribaan,
hapus airmata dan lantunkan doa
memanjati langit menerangi jalan
dan setanggi bunga akan menghiasi
jalan panjang menuju alam
Keabadian.

dini januari 12, 2010

Selasa, 12 Januari 2010

DI JENDELA MATAMU KU LIHAT EMBUN

Ketika kau menyapaku pagi-pagi
aku baru selesai membenahi mimpi
lewat kisi jendela ku lihat embun
mengembang di pelupuk matamu : Sendat
bahumu sesekali berguncang menahan banjir
hanya tarikan bibirmu tak mampu menyembunyikan luka
barangkali dadamu demikian sesak menahan prahara
yang setiap saat bakal melanda pertemuan kita.

Pelan ku tutup jendela
agar tak kulihat tangis pecah dibibir cakrawala
agar tak ku dengar lolong serigala memanggil purnama
ku tekan pintu rapat-rapat
agar aku tak terhanyut kedalam pusaran
gelombang tubuhmu menggelora.

Aku terduduk di pojokan,
kakiku gemetar menahan badai yang menggema di kepala
Adikku, keluhku pelan
kita cukupkan sampai disini
jangan rapatkan perahu yang kita nahkodai
agar kita tidak terbalik
menenggelamkan semuanya.

Masih tersisa isak ketika kau menyeret langkahmu pergi
menghiasi malam pekuburan sepi.

Januari 11. 2010

Minggu, 10 Januari 2010

DAUN GUGUR SATU

Kediamanmu menyimpan berjuta makna
                 kegalauan rindu
                  rentang waktu
                daun gugur satu
                        satu.

Mulutku terkunci menatap langit
buram
ku lihat matamu basah kerinduan
ku palingkan wajah tak ingin terhanyut gelisah
lantas ku hunjamkan belati
engkau terhenyak lantas berlari mendekap
prahara berkecamuk dalam dada.

Ku tatap kepergianmu dengan nyanyi serigala
mengoyak mimpimu tergantung di pelupuk mata
kecamuk badai bulan purnama.

Ku cium bau luka betapapun sakitnya
kulakukan demi kasihku pada buah cinta
yang ku tanamkan di padang para
dan demi sumpahku pada langit ku pegang
nafas surga
agar buah tanamanku senantiasa terjaga
di halamanku rumahku berpagar mantra.

Ku jaga buah tanamanku dari angan mimpi remaja
dan ku buka jendela pagi menabikkan salam
"Tak kan ku tinggalkan anak-anakku kerna ia titipan"

dinihari 7januari 2010

DALAM GELISAH MIMPI, KU TANAMKAN MELATI

Seandainya kita memaksakan pertemuan
barangkali halaman ini akan menjadi lautan
yang bakal menumpahkan mimpi-angan
dan kenangan
bakal mengalir dengan derasnya tanpa kita
mampu mencegahnya.

Ku hindari pertemuan ini
kerna kuyakini sebuah sikap yang ku tahu
kita belum sama-sama siap berhadapan
sebagai awan dan lautan
yang dipertemukan dalam tatap mata
lengkung cakrawala.

Kerna awan berselimut angan dan laut
menyimpan gelombang mimpi malam
maka kutikam jantungmu menembus
jantungku
agar luka ini menjadi pertanda bagi diri kita
bahwa disisi dan belakang kita adalah titipan
yang senantiasa harus kita jaga agar jangan sampai terluka
betapapun rapat kita menyembunyikannya.

Telah lewat lima purnama kau tak menyapaku
ku kirimkan mawar setanggi saat malam menyelimuti sepi
saat engkau tertidur dalam gelisah mimpi
kutanamkan melati di halaman agar wanginya
tercium dari beranda rumahmu lantas membangunkan mimpimu
bahwa pagi hari tlah menyambutmu dengan celoteh
kanak-kanak yang bersih dari prasangka.

Adikku,
tanamkanlah cinta dalam rumahmu, perwujudan cinta kita
kerna garis tlah kita buat dan salib ada di pundak
maka darah yang mengucur dari luka adalah
seteguk dahaga bagi domba-domba
menemu gembala.


dinihari sepuluh, jabuari 2010

GERIMIS TURUN MENJEMPUT MALAM

O, dahaga jiwaku
beri seteguk anggur darahmu agar mengalir
cinta
dari rahim kekasih
menuju muaraMu.

Entah berapa purnama meninggalkanmu
menyusuri lorong kota menghirup debu jalanan
membuatku bergairah lupa arah
gemerlap lampu dan gelimang tawa mengantarku
pada tanya
inikah yang ku cari
inikah yang membuatku berlari ?

Jalan-jalan kota penuh warna
aku terpesona lantas masuk kedalamnya
memanjati dinding cahaya dan remang gemintang
membuatku kian kehausan
tlah ku raih matahari dan ku genggam rembulan jiwaku
aku kelaparan
       aku kehausan
               aku meradang
                     ku hirup gedung
                            ku telan sampah
tapi dahaga  ini senantiasa memenuhi kepala.

Akupun kembali kepadamu dengan ragu
masihkah Engkau mau menerimaku ?

Hujan sore membuatku menggigil dihadapanMu
yang ku raih hanyalah gemerlap fatamorgana
aku merasa tak punya apa tuk ku persembahkan
ketika senja mulai turun mengatupkan matanya.

Dengan sendat ku tanyakan kepadaMu
masihkah kau mau menerimaku ?
(kau hanya tersenyum, tanpa sepatah kata)
diluar gerimis masih turun dan malam
kian rapat menyelimuti kegelapan.

dalam gerimis januari 3, 2010

Kamis, 07 Januari 2010

MALAM 1 SURO (menjelang pagi)

Ketika ku labuhkan jemari di pintuMu
engkau menggeliat
bagai perawan desa engkau berlari meninggalkan
kerling tajam dan senyuman
mengigit darah beliaku yang sedang menunggu
puncak gelora nafasmu.

Aku berdiri terpaku dengan berjuta tanya
menterjemahkan kepergianMu adalah jawaban
aku tahu pasti, tapi aku merasa sangsi
wahai adikku,
jangan biarkan kesendirianku dengan ombak lautan
angin yang engkau kirimkan ke wajahku adalah kehausan
deru nafasmu adalah ketenangan yang engkau endapkan
dalam bilik sepi
yang Ruri.

Adikku,
ketidak-tahuanku adalah sebuah kepastian yang harus
segera ku bulatkan
dalam langkah pasti dan tak akan pernah berhenti
di pangkuanMU, yha Allah
ku cumbu segala hasrat kerinduanku.

lewat satu suro dua ribu sembilan, dini hari

Selasa, 05 Januari 2010

HARI PENGHABISAN


Nafasku berkejaran menanti fajar
kegelapan sepanjang hari membuatku sesak
bilur-bilur pelangi nanar
kelopak mata
semalaman lembab mengalirkan keluh
sesal berkepanjangan bagai awan
mengapung
terbang kemana angin bertiup
di daunan runtuh berserak
perlukah sesal kalau senantiasa kembali ke awal ?

Ku tengok ke belakang jalanan
tajam berkelok tebing
aku tlah hampir sampai di ujung pendakian
akankah ku berhenti dengan bekal sesal
memberati langkah kaki ?

Andai bisa ku kosongkan rongga ini
aku akan berlari dengan bungah
menyambut hari penghabisan dengan mata terpejam
dan senyum tersungging di pelukan
tanganMU
tergantung di awang
Wung
.

Jelang Dini Januari 4.

PRINT AD

Add caption ...