Senin, 27 Desember 2010

DETAK

Akhirnya akupun harus berhenti berharap
kerna langkahku bakal tak sampai
tanganpun gagal menggapai
disini
dalam derap nafas tersenggal
akupun terus berjalan mengikuti air
menuju hilir
tanpa beban mimpi
menggantung di awan.


Akupun berbalik arah menuju pasrah
sumarah
menelusuri bait-bait mantra tanpa logika
ku biarkan segalanya mengelana
melewati samudro cahyo moyo-moyo
tejo sumunar
ginelar
kawedar
tan winatestan kiniblat
salebeting Rat.


Ku buka mata
semuanya tiada.


saat menunggu kehadiran Kristus 2010

Jumat, 24 Desember 2010

JALAN PULANG

Setetes luka yang mengalir
ku hirup sejuknya
di ufuk cakrawala awan berarak
mengembang kepak
smaradhana menyisir wuwungan
malam kian terbenam.


Angkup nangka nglangut nembang
menembus kesunyian mengisi kegelapan
sang pengembara tertatih-tatih
meniti jalan pulang.

Nopember 11, 2010

HARAP

Betapapun tangan tlah ditautkan
Ia ada di luar jangkaun
dan jarakpun kian terbentang
berbatas awan dan lautan
Aku terus berdiri menunggu angin
membawamu ke tepi
di ufuk matahari
Jakarta, des 14 dinihari 2010

PRIT GANTHIL

Ku kenang gelora tubuhmu dalam sebaris nyanyian
menggema dalam ruang waktuku
saat malam menusukkan jemarinya, engkau mendesah
seperti elusan angin di pucuk cemara
nafasmu membara
menghanyutkan nadiku mendaki puncaknya.

Wahai keheningan tak tersapa
tlah ku tanam masa depanku dalam wangi cempaka
menumpahkan kerinduan dengan genderang
menghentak segala sendi segala sepi
membasahi selimut kasihku yang robek
disana-sini.

Inikah wujud kegalauanku yang lama terpendam
bagai bendungan yang tak kuasa menampung beban
banjir bandang menghantam semua tatanan.

Ku tatap gelombang tubuhmu yang kini diam
bagai kediamanku yang tak berujung awal
bagai garis buih yang menjilat tepian memanjang
hilang di kegelapan.

Butir keringat yang menetes kemarin
masih tersisa hangatnya
akankah kita kembali mula
menyelesaikan mimpi yang sekian lama tertunda.

Ku elus gelombang tubuhmu dengan nyanyi
Prit ganthil di siang hari.


dalam hening rawa kuning, jelang desember 15, 2010

Rabu, 01 Desember 2010

SANG PENGABDI

                       hormat takzimku buat sang juru kunci : mBah Maridjan

Engkau sambut kepergian dalam luruh sujud
mencium kening bumi saat balutan bara merenggut nafasmu
engkau tetap adem mengemban titah
tanpa kesah menjunjung sembah
bagi pengabdian tanpa batas kau lewati cakrawala
dalam ngungun doa
wujud bakti kasihmu pada giri merapi siti pertiwi
menyatu dalam diri.

Selamat jalan Sang Pengabdi Sejati
kepergianmu tlah membukakan mata kami
bagaimana mengisi hidup menjadi lebih berarti.

jelang subuh 28 oktober 2010

Minggu, 14 November 2010

KEJUJURAN

catatan kecil buat sahabatku :Ind Ind Grissa

Jujur itu indah
jujur itu jalan keselamatan
memulailah segala sesuatu dengan kejujuran
tanpa kejujuran hidup kita hanya diisi dengan kepalsuan.
Jangan katakan kejujuran itu menghancurkan
yang menghancurkan itu ego kita
ego yang memuat bermacam nafsu
maka jujurlah dengan dirimu dan lihatlah
kamu akan melihat apa yang sesungguhnya terjadi.

Mari kita mencoba menengok ke dalam diri kita
apakah selama ini kita sudah jujur dengan diri kita
marilah kita melihat sesuatu tanpa prasangka
bagai mata seorang bocah yang polos dan bersahaja
maka hidup kita jadi bersih dan indah
jauh dari dendam dan kebencian.

Nopember 14, 2010

Jumat, 29 Oktober 2010

ABDI DALEM

Tubuh rentamu berselimut awan bara
berhembus dari utara membawa wangi kamboja
cempaka bunga tujuh rupa setanggi dupa
ngungun memanjat dinding cakrawala
gelombang prahara surut di peluk samudra

"Kalis ing Allah marga anteping manah
  manembah ngrungkepi lemah
  rah rah sunarah sadremi titah
  lumampah sumringah angsal bebingah
  sih Ing kawula manunggal
  sih Ing Gusti kang satunggal
  byar badar bumi kawedar
  babaring jalmi nunggal sawiji
  pangkoning Gusti pungkasaning bekti
  sedaya bali Ing dalem mukti
  ngrukti bumi pertiwi"

Terjaga aku dari mimpi ketika bumi
merengkuh jasadmu kembali menuju abadi
Ruh Suci.

seusai pemakaman, oktober 28 2010

Senin, 25 Oktober 2010

PERNIKAHAN

kado bagi sahabatku ; Joko Saputro & Erma Pratiwi

 

Mengawali hari mengarungi bahari
dalam biduk yang engkau nahkodai
arah tlah ditentukan dan engkau pembuat keputusan
janganlah sampai tertipu oleh angin buritan
pandai-pandailah engkau membacanya
kerna ia sahabat pengembang layarmu
ia juga penyesat laju langkahmu
engkaulah yang memainkan layar
ke arah mana perahu dibidikkan.

 

Selamat Menembuh Hidup Baru Sahabat

Oktober 25, 2010

Kamis, 21 Oktober 2010

HARIBAAN

Ada yang hilang dalam ruangku
setelah melewati limabelas musim kebersamaan
engkau pergi memenuhi panggilan
bagai pohon tercerabut hingga akar
meninggalkan kami dalam kesenduan
meninggalkan malam-malam berkabut
hembusan angin tlah menidurkanmu
dalam keabadian
dalam pangkuan Sang Pengasih
yang senantiasa menyayangi umatNya.

Yha putraku
perpisahan ini tlah menyatukan kami
betapa sangat berarti kamu dalam kehidupan kami
aku relakan kepergianmu menuju kedamaian
haribaan.

Selamat jalan.
selamat jalan
doaku menerangi jalanmu.

Oktober 21 tengah hari 2010

SURAT DALAM KABUT

                                          : kepada sahabatku keprihatinan ini saya buat

Ada tirai membagi jarak
bagai kabut yang mengendap dalam ruang dan waktu
jenguk dan berbagilah saat senja basah gerimis
kerna di ruang itu gigil rindu tersekat
oleh hembusan angin yang tak lagi mengusap
ia lewat begitu saja melintas wuwungan
tanpa saling menyapa.

( mereka hanya saling berharap
  dengan saling berpijak pada bumi sendiri
  tanpa upaya melangkahkan kaki
  merasakan indahnya berbagi )


Kenapa harus sembunyi di balik karang
laut menggelombang di pucuk-pucuk ombak
mengeluskan kegelisahan di pasir tepian
lantas tercipta buih di puncak kemesraan
menyurut perlahan
menyisakan riak-riak kecil
menyusur kedamaian.

( Bulan bulat di cakrawala
  lembut mencium kening samudra
  bias sinarnya menembus kelam malam
  temaram)

Hujan turun jelang pagi
mereka memeluk dinginnya sepi
menghembuskan keangkuhan seorang bocah
berebut mainan.

Oktober 21, dinihari 2010

Jumat, 15 Oktober 2010

MAGHRIB

Ketika hari mulai terang
sisa embun masih menempel di daunan
ku basuh muka dan kaki
agar mata kian awas menatap jalanan
dan kaki ringan melangkah
menujuMu.

Ketika bait-bait puisi bergema seusai maghrib tiba
aku bersimpuh di kakiMu
menumpahkan segala noda yang melekat di jubahku
ku seret dengan keponggahan semu
Sungguh, aku malu
kemana kan ku surukkan wajah ini di hadapanMu.

Andai bisa ku hapus jejak ini
dengan segala kerendahan kan ku lakukan
dengan langkah tertatih ku serahkan
badan ini seutuhnya.

Aku ingin pulang
saat maghrib mulai menjelang.

dinihari jelang sahur, agustus 28, 2010

PRINT AD

Add caption ...