Rabu, 01 Desember 2010

SANG PENGABDI

                       hormat takzimku buat sang juru kunci : mBah Maridjan

Engkau sambut kepergian dalam luruh sujud
mencium kening bumi saat balutan bara merenggut nafasmu
engkau tetap adem mengemban titah
tanpa kesah menjunjung sembah
bagi pengabdian tanpa batas kau lewati cakrawala
dalam ngungun doa
wujud bakti kasihmu pada giri merapi siti pertiwi
menyatu dalam diri.

Selamat jalan Sang Pengabdi Sejati
kepergianmu tlah membukakan mata kami
bagaimana mengisi hidup menjadi lebih berarti.

jelang subuh 28 oktober 2010

Minggu, 14 November 2010

KEJUJURAN

catatan kecil buat sahabatku :Ind Ind Grissa

Jujur itu indah
jujur itu jalan keselamatan
memulailah segala sesuatu dengan kejujuran
tanpa kejujuran hidup kita hanya diisi dengan kepalsuan.
Jangan katakan kejujuran itu menghancurkan
yang menghancurkan itu ego kita
ego yang memuat bermacam nafsu
maka jujurlah dengan dirimu dan lihatlah
kamu akan melihat apa yang sesungguhnya terjadi.

Mari kita mencoba menengok ke dalam diri kita
apakah selama ini kita sudah jujur dengan diri kita
marilah kita melihat sesuatu tanpa prasangka
bagai mata seorang bocah yang polos dan bersahaja
maka hidup kita jadi bersih dan indah
jauh dari dendam dan kebencian.

Nopember 14, 2010

Jumat, 29 Oktober 2010

ABDI DALEM

Tubuh rentamu berselimut awan bara
berhembus dari utara membawa wangi kamboja
cempaka bunga tujuh rupa setanggi dupa
ngungun memanjat dinding cakrawala
gelombang prahara surut di peluk samudra

"Kalis ing Allah marga anteping manah
  manembah ngrungkepi lemah
  rah rah sunarah sadremi titah
  lumampah sumringah angsal bebingah
  sih Ing kawula manunggal
  sih Ing Gusti kang satunggal
  byar badar bumi kawedar
  babaring jalmi nunggal sawiji
  pangkoning Gusti pungkasaning bekti
  sedaya bali Ing dalem mukti
  ngrukti bumi pertiwi"

Terjaga aku dari mimpi ketika bumi
merengkuh jasadmu kembali menuju abadi
Ruh Suci.

seusai pemakaman, oktober 28 2010

Senin, 25 Oktober 2010

PERNIKAHAN

kado bagi sahabatku ; Joko Saputro & Erma Pratiwi

 

Mengawali hari mengarungi bahari
dalam biduk yang engkau nahkodai
arah tlah ditentukan dan engkau pembuat keputusan
janganlah sampai tertipu oleh angin buritan
pandai-pandailah engkau membacanya
kerna ia sahabat pengembang layarmu
ia juga penyesat laju langkahmu
engkaulah yang memainkan layar
ke arah mana perahu dibidikkan.

 

Selamat Menembuh Hidup Baru Sahabat

Oktober 25, 2010

Kamis, 21 Oktober 2010

HARIBAAN

Ada yang hilang dalam ruangku
setelah melewati limabelas musim kebersamaan
engkau pergi memenuhi panggilan
bagai pohon tercerabut hingga akar
meninggalkan kami dalam kesenduan
meninggalkan malam-malam berkabut
hembusan angin tlah menidurkanmu
dalam keabadian
dalam pangkuan Sang Pengasih
yang senantiasa menyayangi umatNya.

Yha putraku
perpisahan ini tlah menyatukan kami
betapa sangat berarti kamu dalam kehidupan kami
aku relakan kepergianmu menuju kedamaian
haribaan.

Selamat jalan.
selamat jalan
doaku menerangi jalanmu.

Oktober 21 tengah hari 2010

SURAT DALAM KABUT

                                          : kepada sahabatku keprihatinan ini saya buat

Ada tirai membagi jarak
bagai kabut yang mengendap dalam ruang dan waktu
jenguk dan berbagilah saat senja basah gerimis
kerna di ruang itu gigil rindu tersekat
oleh hembusan angin yang tak lagi mengusap
ia lewat begitu saja melintas wuwungan
tanpa saling menyapa.

( mereka hanya saling berharap
  dengan saling berpijak pada bumi sendiri
  tanpa upaya melangkahkan kaki
  merasakan indahnya berbagi )


Kenapa harus sembunyi di balik karang
laut menggelombang di pucuk-pucuk ombak
mengeluskan kegelisahan di pasir tepian
lantas tercipta buih di puncak kemesraan
menyurut perlahan
menyisakan riak-riak kecil
menyusur kedamaian.

( Bulan bulat di cakrawala
  lembut mencium kening samudra
  bias sinarnya menembus kelam malam
  temaram)

Hujan turun jelang pagi
mereka memeluk dinginnya sepi
menghembuskan keangkuhan seorang bocah
berebut mainan.

Oktober 21, dinihari 2010

Jumat, 15 Oktober 2010

MAGHRIB

Ketika hari mulai terang
sisa embun masih menempel di daunan
ku basuh muka dan kaki
agar mata kian awas menatap jalanan
dan kaki ringan melangkah
menujuMu.

Ketika bait-bait puisi bergema seusai maghrib tiba
aku bersimpuh di kakiMu
menumpahkan segala noda yang melekat di jubahku
ku seret dengan keponggahan semu
Sungguh, aku malu
kemana kan ku surukkan wajah ini di hadapanMu.

Andai bisa ku hapus jejak ini
dengan segala kerendahan kan ku lakukan
dengan langkah tertatih ku serahkan
badan ini seutuhnya.

Aku ingin pulang
saat maghrib mulai menjelang.

dinihari jelang sahur, agustus 28, 2010

Kamis, 14 Oktober 2010

SAHABAT

Barangkali kebencian tlah kau tanam di pelataran
tapi aku tidak
kita senantiasa berbeda cara bertanam
walau benih yang kita tebar sama
perbedaan itulah yang mengasyikkan
buat bertukar pandang dan mengenang
bahwa perpisahan bukanlah memisahkan jarak
bagi sebuah kebersamaan
segalanya harus terjalin tanpa beban
mengalirlah air menuju kerenadahan
dan kepala jangan kau dongakkan
kerna dalam kerendahan terletak ketinggian
dalam ketinggian terletak kerendahan
mari kita saling berjabatan sahabatku
saat usia sudah menunggu.

jelang tidur dini hari, oktober 10, 2010.

FRAGMEN PAGI

Hujan tengah malam membawa dingin
tampias
di tritisan wajahku basah kerinduan
bayang lorong sepi ngadisuryan
tembok tegak bisu dindingnya
terpahat remajaku
kusam berdebu
disini
pertama benih ku tanam
sedap malam dalam pingitan
pecah tangisnya
menghilir ke lautan.

Tembang kian nglangut menyisir wuwungan
dan derai daunan ditiup angin selatan
membuatku terhempas di tebing karang
gigilku menggelombang kenangan
pada bibir-bibir pantai yang memagutku penuh gairah
pada buih ombak yang berkejaran di punggung kegelapan
membuncah keremajaanku yang gagal
mengendapkan tarian perang.

Awan kian mengambang tersaput mendung
ku tatap jalanan yang kian berkabut sisa badai semalaman
aku harus melangkah berpantang untuk menyerah
aku harus jadi lelaki dimatamu dan disikapku
tlah ku tebar benih di ladangmu tak kan ku tinggalkan
walau kita tak tahu apa terbentang di depan.

Sinar mentari yang menembus sela daunan
terpantul di wajahmu yang menggantung senyuman
tak terlihat kegelisahan di matamu
walau embun sedikit mengembang.
Aku terhenyak ketika tangan mungilmu
memelukku dengan kecupan sambil mengalungkan
masa depanmu dalam dekapan.

Rabu, 25 Agustus 2010

TANGIS BOCAH

Sembilu terhunjam di keheningan
tangis bocah tengah malam
di puncak kelaparan
Duh, gemanya
bagai lolong serigala merindukan purnama.

jelang sahur 25 agustus 2010

NYANYI DORNA

Barangkali ini suatu kehancuran atau
barangkali sebuah keberhasilan
bayang-bayang Yudas senantiasa mengikuti langkahku
haruskah aku menjadi Yesus baru
yang menerima langkah Yudas
dalam perjamuan suci.

Entah berapakali badai menghantam
aku senantiasa memaafkan
ketika engkau memaku tanganku di penyaliban
tangan ini aku ulurkan
menuju bukit dengan beban salib aku terima
sebagai jalan.

Kini aku bangkit menyandang luka
kerna kemanusiaanku juga
dan penyesalan yang engkau dengungkan
adalah nyanyi durna di padang kembang
dan tembang kumbang di halaman
menjelma tanaman yang menghunjam
akar senantiasa menumbuhkan tunas baru
yang bakal melindungiku dari terik matahari.

Kebangkitanku di hari ketiga adalah nafas
bagi hari baruku yang mulai tunas
melintasi bukit-bukit menghadang angin
yang senantiasa engkau hembuskan
merintangi langkahku yang kini kian ringan
melintas badai lautan.

Kini nyanyi Durna bagai gema memantul dinding
dimana kebimbangan Arjuna telah sirna
terkikis angin tenggara membentang panah diatas kereta
empat kuda bersais Kresna mengawali perang padang Kuru
darah kita bakal tertumpah disana.

Adikku,
kini kita saling berhadapan dengan pedang
mempertaruhkan keyakinan yang kita pegang
ketika hari menjelang petang.

4juni-25agustus 2010

PRINT AD

Add caption ...