Kamis, 15 Oktober 2009

KIDUNG

Betapa alit tanganku menggelitik sabdaMu
yang terucap ketika aku merajut sepi
lewat nyanyiku yang ngungun menapaki waktu
menapaki pintu menapaki jejakmu yang menebar
segenap penjuru.

Nyanyi-nyanyi berubah jadi kidung
kidung-kekidungan berubah jadi lolong
lolong-melolong berubah jadi jerit, pekik
rintih
suaraku serak menyebuti namaMu.

Ketika lonceng gereja meninggalkan gemanya
lagu itu senantiasa ku ulang
dengan suara lirih takut terdengar telingaku
lagu itu senantiasa ku ulang
dari bait ke bait
       kalimat ke kalimat
               kata demi kata
                     ku eja
                   T u h a n
jejakmu meraja ke segenap pelupuk mata
Engkau dimana ?
ku bisikkan jua ke hati waktu
kerna mantra tak lagi terdengar
              tak lagi berkabar
sementara sabdaMu yang pernah aku terima
kian jauh dari cakrawala.

Rindu itu masih juga bersisa
ketika ku singgahi nisanMu yang kedua
MENUJU DERMAGA

Mempertemukan jemari kita saat sepi
ketika bayang-bayang luruh membentuk rupa
suaramu telah sampai sebelum kata lepas tangkai
menyuruki lautan senja

Gemerlap
    gemerlap badai melebur
        dalam sekian damba
pekabaran tanggal satu-satu dimuka jendela.

Hatiku lemah berucaplah
apa arti kekasih apa arti mencinta
sekian tusukan derita sekian waktu
pengorbanan
berapa jumlah.

Keresahan terayun di tiap langkah menapaki
jejak purba yang memenuhi cakrawala tak ku tahu
apa arti mencinta

Bunda Maria, perawan surga
ajari aku jadi gembala

Dari dermaga ke lain dermaga yang sarat damba
kutambatkan sejumlah rindu wujud persembahan
dihatimu - Maria
dihatimu
muara segala muara.

1986
DALAM DIAM

Mungkin engkaulah yang meniupkan angin santer
ketika diam-diam ku injak sabdaMu
di penghujung jalan.

Aku berjalan sendiri kini
diatas kegelisahan yang tiada berkiblat
delapan penjuru angin telenging samudra
dimana Bima menemu dirinya
         dimana Bima menemu hidupnya
                          aku mencari
                aku mencari
dalam kegelisahan yang makin mengendap
dalam detak Sang Waktu tak susut garis edarnya
dalam diam
         dalam tafakur
                dalam Dzikir
                        dalam doa
                                dalam sembahyangku
                                      kepada siapa
Bagaimana harus ku sebut dalam sujudku agar
Engkau senantiasa hadir menjamu langkahku.

Ku masuki longkangan tujuh hari tujuh malam
mati-ragaku tak menampakmu
                        hanya kegelapan
           hanya kegelapan
dalam diam.

Malam ketiga dari purnama ku dengar langkah
menapaki dinding waktu dinding telingaku
pelupuk mata detak nadiku menjelma jadi langkah
gema lima benua tujuh samudra langit dan jagad raya
akupun kebingungan
ketika langkahMu semakin jelas terdengar menjelma
jejak purba
Aku sesambat
suaraku yang nggrantes menjelma mantra memanjati
dinding cakrawala.

Mungkin engkaulah yang meniupkan angin santer
ketika diam-diam ku injak sabdaMu di ujung
gelisahku.
WAJAH

Wajahmu yang luruh menjelma kabut memasuki
pekaranganku yang tumbuh semak senyum
kakekku menghias dipojok sapanya, Amboi
betapa dingin angin utara
keheningan bermakna ganda menguliti sabdaMu
ketika pagi memoles wajahnya
dalam samadi
betapa dekat cakrawala tersaput warna.

Pada akhirnya kuambil jalan pintas
melewati kegelapan dan kegaiban aku berkiblat
meraba dindingMu berkaca lentera
bayangbayang semakin kabur
Aku lebur.

Tapi semuanya jadi bukan
megamega hanya fatamorgana cakrawala menipu mata
semuanya tak bisa kubawa menghadapMu
hanya kekosongan
kekosongan yang senantiasa menghadang.

Sesobek angin menyisir senja ketika usia
hampir saatnya.

1986
KEHENINGAN

Barangkali Engkaulah yang menanam jemari
saat malam menyempurnakan sepi
menyempurnakan keheningan hingga ke puncakpuncaknya
Engkau menyapa dengan gigilMu yang pelan menguak
hening samadi menggelar samudra cahya terang
temaram tiada panas gelap temaram tiada
dingin
menggayuti rasa kantukku yang sembunyi dikaki
kakiMu.

Barangkali Engkaulah yang menanam melati
ketika kakiku menapaki sepi.

1986

KELAHIRAN

Betapa arifnya wajah Bunda yang
menanggung derita akibat sabda
ditiupkannya ke rahimmu suci dan perawan

     Burung dara terbang menyibak awan
     kepak lirihnya ramah menyapa
     demi putraMu Bapa, ku ikut jalan surga
     mengembalakan domba dengan kesabaran
     bagai kau layani aku ketika pertama
     ku minum secangkir anggur dan darah.

Bapa,
perkenankan aku menciptakan Yesus baru
dibawah atapMu juga
dengan suara loncengnya yang merdu mengetuk
setiap pintu yang lelap
tertidur.

Wajah Bunda,
betapa ngungun menanggung derita.

1986
SANG BAYU

Kita lahir dan dipertemukan sebagai dua pribadi satu hati
dari bumi bernafaskan matahari
Aku elang rajawali terbang bebas bermata awas melintas rimba
mencari anak domba berbulu unta menyusup para
mereguk dahaga
padang sendang.
Engkau kelinci kecil, jinak mengendus rumputan
danau bermata bening dari hembusan angin menetes
senyumMu Purba
Anak serigala, merunduk di batang para
dengan kelicikan dengan kerakusan senantiasa memburumu
kedalam bayang
bayang cinta.

Kita lahir dan dipertemukan; bumi terkasih
melahirkan kata mencari makna menautkan hati jadi satu
kesatuan anak lidi
dalam kebersamaan seikat; Menyapulah
bagi kebersihan niat bagi latar
belakang rumah kita, jadikanlah istana.

Kita lahir dengan menyandang perjuangan dipertemukan
untuk menumpas penderitaan
berhembuslah Sang Bayu bagi laju terbangnya
Rajawali perkasa, mendukung anaknya.
Kuselesaikan penderitaan lewat panggraitamu yang awas
kita sepakat kawin sebagai alat pembidik jejantunging ngaurip.
- Kasunyatan kang manjing sajroning susuh angin.

1986
PERTEMUAN

Ku awali perkenalan lewat Adam
dengan bisiknya yang ramah Adam menyuapiku
kelaminnya kepala ular
Adam, Adam aku bukan cucumu yang terlahir
dari dosa lalu menanggungkannya
dengan tangis yang keras menyerupai doa
dengan kawah yang menyertaiku bukanlah cinta tapi hama,
hamamu Adam yang kau tebarkan
diatas benih tanamanmu
Aku anak Maria Bunda terkasih Bunda terpilih
yang menangis kerna dipisahkan dari cinta yang
tersimpan di rahimnya
Yesus mengajariku berdiri mengajariku
berjalan meniti sungai Yordan pertama
ia dipermandikan
sambil mengajariku mengenal kehidudupan mengajariku
menggembala domba
kakiku semakin kurus ditinggal Bapa
diatas salibnya yang tegak menggapai
angkasa cinta kasihmu
tinggal terpaku
di segenap pintu.

Tanganmu telah menyembuhkanku dari luka
kerna tanganmu cinta ucapmu cinta jadilah
Engkau gembala
kerna nafasmu cinta darahmu cinta maka
ku temu jejakmu dalam cinta.

ketika aku ngembara
kutiti jejakmu sebagai gembala.

1985
SEPI PERBINCANGAN

Ketika kau tidurkan aku dengan tembang
ku hapus bayang-bayang yang melekat
dalam detak Sang Waktu menapaki langit
langit kesadaran
menggores cakrawala dengan darah lewat mimpi
lewat gelisah ombak lewat kelembutan angin
lewat matahari membakar gairah: Ach.
Betapa cintanya Ia kepadaku.

Lewat kisi jendela kupandangi kepergianMu
bunga di jemari mengantarkan isyarat asing pagi hari
mengantarkan kekuyuan waktu
yang gagal ku tapaki
Aneh,
Engkau tak juga terluka menyambut belati
seulas senyumMu menebar cakrawala menjelma
mega-mega
( mimpi membutakan kesadaranku )
Ku habiskan hari tua dengan mengenangkanMu
melewati paritparit basah dengan bisik
menebar bunga di sudut kota
Engkau menciumku dekat
persimpangan.

Dalam dingin usiaku
dalam berat kangenku
betapa hangat berdiang dekat tungku.

1986
TEKA-TEKI
 
Marilah kita memecahkan teka-teki malam adikku
setelah melewati ambang gerbang menyusuri waktu
setelah menyepakati duka menjadi milik kita
berbunga tawa sepanjang usia
( lantas kebungahan hatilah yang bicara
  tentang keberadaan manusia yang menolakkan garisnya
  menjemput kilatan badai penghuni dada )

Bergandengan kita menyisir ambang senja
menguak satu mega ke lain fatamorgana
menemu tiada
hingga samodra menggelombang diatas tubuhmu
bentang gendewa melepas busurnya
yang kian susut garis edarnya, O bunga
tembang kinanti tinggal menyusuri rusuk sepi
kembang kantil berbaur bunyi prit gantil
ku tanam chochro kecil di ladangmu
lewat bunga tujuh rupa menuju sumbernya
lewat upacara tiada bermantra menuju muara
gaib dan keramat, yha Allah
ku tuntaskan firmanMu.

1986

Cover Antologi


PRINT AD

Add caption ...