I.
Aku harus memulai hidup dalam keberaturan
dari awal langkah yang menentukan
kerna bagaimanapun tujuan hanya bisa
ditempuh dengan jalan
betapapun berat untuk dilaksanakan
tapi kesadaran akan meringankan beban
dan jarakpun kian dekat dari jangkauan.
II.
Segalanya tlah dimulai
entah kapan kan sampai
tangan menggapai
Tuhan
beri aku pegangan
dalam meniti jalan.
III.
Beri aku sesuatu
sebelum terhenti langkahku.
Mei 10, 1987
Inilah wujud kegagalan yang aku raih, kegagalan yang senantiasa akan aku ikuti dengan kegagalan berikutnya
Senin, 04 Januari 2010
G E T A R
Betapa sukar gerak dan diam dibedakan
kerna keterbatasan mata dan kata
manusia berdiri di luar jangauannya
hingga aku senantiasa dilanda tanya
tentang getar dan suara
haruskah aku menggetarkan suara
atau menyuarakan getar
di tiap langkahku ?.
mei 1, 1987
kerna keterbatasan mata dan kata
manusia berdiri di luar jangauannya
hingga aku senantiasa dilanda tanya
tentang getar dan suara
haruskah aku menggetarkan suara
atau menyuarakan getar
di tiap langkahku ?.
mei 1, 1987
Kamis, 24 Desember 2009
B U M I
Aku senantiasa kembali, menatap langit bertepi bumi
disini, Adam pernah merajut rusuknya dengan buih
pucuk gelombang menghempas cakrawala, O
Bethara Surya - betapa nakalnya
Kunti Talibrata terpanggang diatas bara
telinganya - seorang bocah bermain membentuk gua
( gelombang datang menyurukkan pasir
lidah buih Bathara Surya meniti tepian kainnya
tersingkap angin merona wajahnya )
Yha, jiwaku kanak-kanak
jiwa Kunthi bermain ayunan
tangan ombak menghempas
karang batuan.
Aku kembali berdiri, sendiri menatap langit-langit bumi
dimana terkubur benih kenakalanku. O, perihnya dahaga
ku teguk ludah dari wangi mulut penuh aroma
mengaburkan pandang kesadaranku.
Aku berdiri sendiri kini, bercermin bumi
yang senantiasa aku injak dengan kepala tengadah.
april 22, 1987
disini, Adam pernah merajut rusuknya dengan buih
pucuk gelombang menghempas cakrawala, O
Bethara Surya - betapa nakalnya
Kunti Talibrata terpanggang diatas bara
telinganya - seorang bocah bermain membentuk gua
( gelombang datang menyurukkan pasir
lidah buih Bathara Surya meniti tepian kainnya
tersingkap angin merona wajahnya )
Yha, jiwaku kanak-kanak
jiwa Kunthi bermain ayunan
tangan ombak menghempas
karang batuan.
Aku kembali berdiri, sendiri menatap langit-langit bumi
dimana terkubur benih kenakalanku. O, perihnya dahaga
ku teguk ludah dari wangi mulut penuh aroma
mengaburkan pandang kesadaranku.
Aku berdiri sendiri kini, bercermin bumi
yang senantiasa aku injak dengan kepala tengadah.
april 22, 1987
T A H U N
Suara jiwa yang mengalun dahaga
rinduku pada kembang - sedap malam
ku tanam setangkai dua di kegelapan
kertas-kertas, daun bayangan matahari
kian tergelincir menyemburat warna jingga
membias wajah
wajahku
wajah kita
rona senja mencium kening cakrawala senantiasa
merekah pagi terik siangnya lantas sembunyi
kegaiban
kearifan
usia terus berjalan melewati malam.
maret 31, 1987
rinduku pada kembang - sedap malam
ku tanam setangkai dua di kegelapan
kertas-kertas, daun bayangan matahari
kian tergelincir menyemburat warna jingga
membias wajah
wajahku
wajah kita
rona senja mencium kening cakrawala senantiasa
merekah pagi terik siangnya lantas sembunyi
kegaiban
kearifan
usia terus berjalan melewati malam.
maret 31, 1987
Rabu, 23 Desember 2009
T E M B A N G
Betapa inginku menuliskan tembang tentang awan
muara negeri yang mengalirkan angin keras
dalam rusuk Adam berongga nada - sumbang
mempesona kelana memasuki gerbangnya
( bias-bias langit di cakrawala
aku arungi bersama ).
Barangkali aku mulai menyadari arti
rumah yang kau huni tanpa upacara pagi hari
itu bukanlah milikku
dan pesta setanggi bunga yang ku taburkan di antara kamar
dan altar adalah riak gelombang
membentuk fatamorgana
dan itu bukanlah istana ujung perjalanan dimana aku
menyusuri jejak resia dengan dinding
dindingnya berhias darah air mata
langkahpun jadi sendat dengan tangan senantiasa
menggores-gores kaca hingga wajahku berembun
tak terbaca
akupun terus bermimpi tentang kolam dan taman
akupun terus bernyanyi tentang gelombang dan awan
akupun kian jauh mengembara lantas lupa kembali
rumahku sunyi tanpa hiasan
dindingnya mata beratap mega nafasnya
entah pergi kemana.
Riak gelombang datang berulang
menyurukkan tembang mimpi siang
yang senantiasa aku basahi dengan darah dan kurban
yang tak sempat aku benahi ketika pagi menjelang.
Dengan suara sumbang akupun nembang
tentang seorang kanak-kanak yang meniti hari
dengan menyulam sisa kainnya yang robek
disana-sini.
Oktober 87, revisi desember 24
muara negeri yang mengalirkan angin keras
dalam rusuk Adam berongga nada - sumbang
mempesona kelana memasuki gerbangnya
( bias-bias langit di cakrawala
aku arungi bersama ).
Barangkali aku mulai menyadari arti
rumah yang kau huni tanpa upacara pagi hari
itu bukanlah milikku
dan pesta setanggi bunga yang ku taburkan di antara kamar
dan altar adalah riak gelombang
membentuk fatamorgana
dan itu bukanlah istana ujung perjalanan dimana aku
menyusuri jejak resia dengan dinding
dindingnya berhias darah air mata
langkahpun jadi sendat dengan tangan senantiasa
menggores-gores kaca hingga wajahku berembun
tak terbaca
akupun terus bermimpi tentang kolam dan taman
akupun terus bernyanyi tentang gelombang dan awan
akupun kian jauh mengembara lantas lupa kembali
rumahku sunyi tanpa hiasan
dindingnya mata beratap mega nafasnya
entah pergi kemana.
Riak gelombang datang berulang
menyurukkan tembang mimpi siang
yang senantiasa aku basahi dengan darah dan kurban
yang tak sempat aku benahi ketika pagi menjelang.
Dengan suara sumbang akupun nembang
tentang seorang kanak-kanak yang meniti hari
dengan menyulam sisa kainnya yang robek
disana-sini.
Oktober 87, revisi desember 24
ASMARA RAMA
Barangkali aku tlah sampai batas
kepasrahanku sekedar wujud rasa putus asa karna
bagaimanapun rendahnya langit bumi tak kuasa
'tuk menggamitnya
hanya kening malam yang kelam hitam
bagai sosok kemesraan dan akrabnya bebayang
cinta dalam kegelapan saling menyembunyikan tangan
dengan irama gaib menggelepar debar
buah Adam - gairah, cinta sama wujud
menara api bagi Shita di puncak asmara Rama
bara panas yang menjilat angkasa adalah wujud
kesetiaan dan kesangsian yang berebut
keangkuhan - kebenaran
terasa begitu samar ntuk diperbincangkan
dan langit kian hitam hanyalah saksi dan selalu
jadi saksi
tentang keangkuhan yang senantiasa mengaburkan arti
kebenaran.
februari - september 1987
kepasrahanku sekedar wujud rasa putus asa karna
bagaimanapun rendahnya langit bumi tak kuasa
'tuk menggamitnya
hanya kening malam yang kelam hitam
bagai sosok kemesraan dan akrabnya bebayang
cinta dalam kegelapan saling menyembunyikan tangan
dengan irama gaib menggelepar debar
buah Adam - gairah, cinta sama wujud
menara api bagi Shita di puncak asmara Rama
bara panas yang menjilat angkasa adalah wujud
kesetiaan dan kesangsian yang berebut
keangkuhan - kebenaran
terasa begitu samar ntuk diperbincangkan
dan langit kian hitam hanyalah saksi dan selalu
jadi saksi
tentang keangkuhan yang senantiasa mengaburkan arti
kebenaran.
februari - september 1987
D E W A R U C I
Yang tak terpegang itu dingin angin
tiada berdaging ding - ding - ding
darahnya mengalir di angkasa bunga
tujuh samudra kedalaman diamnya
cahya delapan di keheningan henengnya
- kang ijo maya-maya tanpa rupo
kang sepi sepa samun tanpa swara
tan kiniblat araning Rat
yha kang sidem premanem ayem tentrem
tan bungah tan susah tan gumragah alaming
Rah
Rah kang Roh
Roh kang Rat
Rat kang Dat
kabeh bali ing telenging samudra
kuping kiwa.
februari 19, 1987
tiada berdaging ding - ding - ding
darahnya mengalir di angkasa bunga
tujuh samudra kedalaman diamnya
cahya delapan di keheningan henengnya
- kang ijo maya-maya tanpa rupo
kang sepi sepa samun tanpa swara
tan kiniblat araning Rat
yha kang sidem premanem ayem tentrem
tan bungah tan susah tan gumragah alaming
Rah
Rah kang Roh
Roh kang Rat
Rat kang Dat
kabeh bali ing telenging samudra
kuping kiwa.
februari 19, 1987
Jumat, 18 Desember 2009
BENIH
Dengan tangan-tangan lentik dibentuknya
seekor merpati dengan kepak belati
menebar di cakrawala menjelma pelangi
yang siap mengolah tanah jadi ladang padi
membalikkan tangan mengalirkan lahar api
meluapkan kesuburan dan kegersangan
dalam satu genggaman.
Ia adalah Ruh Tuhan yang menciptakan
seisi bumi dengan setan dan imam
Ia adalah Sang pembidik kearah mana
benih ditebarkan
Ia sang pengolah hidup dengan Rahim Tuhan
yang menghembuskan nafasnya disisi telinga
hingga gairah tak jadi padam dan hidup bagai lautan
dengan matanya yang elang ia mengajari terbang
melintas badai menembus awan mencari
kasunyatan.
Ia adalah sang Hidup
Ia adalah sang Mati
kearah mana ladang benih ditebarkan
nafasnya bernama bumi.
desember 11, 1985
seekor merpati dengan kepak belati
menebar di cakrawala menjelma pelangi
yang siap mengolah tanah jadi ladang padi
membalikkan tangan mengalirkan lahar api
meluapkan kesuburan dan kegersangan
dalam satu genggaman.
Ia adalah Ruh Tuhan yang menciptakan
seisi bumi dengan setan dan imam
Ia adalah Sang pembidik kearah mana
benih ditebarkan
Ia sang pengolah hidup dengan Rahim Tuhan
yang menghembuskan nafasnya disisi telinga
hingga gairah tak jadi padam dan hidup bagai lautan
dengan matanya yang elang ia mengajari terbang
melintas badai menembus awan mencari
kasunyatan.
Ia adalah sang Hidup
Ia adalah sang Mati
kearah mana ladang benih ditebarkan
nafasnya bernama bumi.
desember 11, 1985
ALTAR CEMARA
Ada berapa entah tercecer di jalanan
tak kuasa aku pungut senantiasa ada
dalam pelukan
O, andai dapat kurapatkan impian dan kenyataan
barangkali kenangan bukan sekedar sulaman
yang tiap detaknya menggoreskan luka
bait-bait puisi bakal mengepakkan sayap
melewati ambang fajar menguapkan embun di daunan
selangkah lewat kita biarkan tanpa makna
( kita saling bersitahan dalam kedinginan malam )
cemara natal menderaikan daun-daun sepanjang jalan
aku tak kuasa menjumputnya, juga kau
tangan-tangan sutera
entah apa sedang kau lukiskan dengan untai melati
yang tiap saat kita tebar pujapuji
entah berapa darah menyimbahi latar suci
yang tiap saat kita basahi dengan berahi
buah adam kita makan sambil menyembunyikan tangan
O,
betapa kita bisa bernyanyi di kebun hawa
tanpa lukaduka menggores wajah kita.
Derai-derai cemara telah kita lewati
seperti mengecup altar suci sambil onani
(kita masih berdiri tegak, terasa enggan turun dari taman ).
desember 5, 1998
tak kuasa aku pungut senantiasa ada
dalam pelukan
O, andai dapat kurapatkan impian dan kenyataan
barangkali kenangan bukan sekedar sulaman
yang tiap detaknya menggoreskan luka
bait-bait puisi bakal mengepakkan sayap
melewati ambang fajar menguapkan embun di daunan
selangkah lewat kita biarkan tanpa makna
( kita saling bersitahan dalam kedinginan malam )
cemara natal menderaikan daun-daun sepanjang jalan
aku tak kuasa menjumputnya, juga kau
tangan-tangan sutera
entah apa sedang kau lukiskan dengan untai melati
yang tiap saat kita tebar pujapuji
entah berapa darah menyimbahi latar suci
yang tiap saat kita basahi dengan berahi
buah adam kita makan sambil menyembunyikan tangan
O,
betapa kita bisa bernyanyi di kebun hawa
tanpa lukaduka menggores wajah kita.
Derai-derai cemara telah kita lewati
seperti mengecup altar suci sambil onani
(kita masih berdiri tegak, terasa enggan turun dari taman ).
desember 5, 1998
J A L A N
Burung hantu yang bersuara dari hati
kian tajam merambati hari
di luar, bulan terang
menggerakkan angkup nangka diatas pusara
barangkali perjalanan akan berakhir disini
atau akan terus mengembara ke padang hingga
menemu fajar sebuah negeri
tapi surga bukanlah surga bagi Adam tanpa rusuknya
dan negeri (pun) hanyalah impian pengembara
sedang burung menemu kebebasan dalam sarangnya
lantas untuk apa pergi untuk apa mencari
kalau dalam diri tlah ada segala
surga dan neraka mengintai di baliknya
sebuah tabir
begitu jelas nampak hampa ketika dibuka
dan kita tak perlu bertanya.
januari 2, 1987
kian tajam merambati hari
di luar, bulan terang
menggerakkan angkup nangka diatas pusara
barangkali perjalanan akan berakhir disini
atau akan terus mengembara ke padang hingga
menemu fajar sebuah negeri
tapi surga bukanlah surga bagi Adam tanpa rusuknya
dan negeri (pun) hanyalah impian pengembara
sedang burung menemu kebebasan dalam sarangnya
lantas untuk apa pergi untuk apa mencari
kalau dalam diri tlah ada segala
surga dan neraka mengintai di baliknya
sebuah tabir
begitu jelas nampak hampa ketika dibuka
dan kita tak perlu bertanya.
januari 2, 1987
S A L I B
Ketika ku tatap salib
tak kulihat denyut tuhan
seraut wajah terpaku di tangan.
Ketika ku tatap ulang
seonggok daging dengan darah membentuk lubang
lengkap dengan duri di kepala.
Lantas ku tadahkan tangan
membasuh wajah lewat lambungmu
sambil menggumamkan kata di depan salib
"Ternyata Engkau manusia disaat akhirmu"
januari 3, 1987
tak kulihat denyut tuhan
seraut wajah terpaku di tangan.
Ketika ku tatap ulang
seonggok daging dengan darah membentuk lubang
lengkap dengan duri di kepala.
Lantas ku tadahkan tangan
membasuh wajah lewat lambungmu
sambil menggumamkan kata di depan salib
"Ternyata Engkau manusia disaat akhirmu"
januari 3, 1987
Langganan:
Postingan (Atom)
-
PRAKATA Pada awal-mulanya, artinya ketika manusia masih utuh, belum terpecah-pecah dalam watak dan karyanya, maka fungsi seorang agamawan,...
-
MENUJU DERMAGA Mempertemukan jemari kita saat sepi ketika bayang-bayang luruh membentuk rupa suaramu telah sampai sebelum kata lepas tan...